Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Warga Kudus Berhasil Kembangkan Pompa Air Tanpa Listrik dan BBM

 

MURIANEWS, Kudus – Krisis air bersih yang terjadi Desa Cranggang, Kecamatan Dawe, Kudus, menginspirasi warga setempat bernama Hermawan (35) untuk membuat pompa air tanpa listrik dan BBM. Pompa ini biasa disebut dengan hidram.

Pompa hidram sendiri sebenarnya sudah ditemukan semenjak abad ke-18. Hermawan mengembangkan sistem kerja pompa itu, agar bisa menyedot air dengan maksimal.

Pompa ini memanfaatkan gaya gravitasi bumi  untuk menghasilkan energi yang lebih besar untuk memompa dan menyebarkan air sungai tanpa menggunakan mesin.

Dengan bermodalkan tabung hampa berdiameter enam inch, dua katup penggerak, pipa input dua inch dan pipa output satu inch mampu menaikkan air hingga 30 meter di atas permukaan sungai.

“Sistem kerjannya memanfaatkan gravitasi bumi dan air dari aliran sungai. Pompanya ditaruh di tempat yang lebih rendah dari sungai, dengan elevasi ketinggian minimal tiga meter,” katanya, Selasa (13/10/2020).

Hermawan menunjukkan pompa hidram buatanya. (MURIANEWS/Yuda Auliya Rahman)

Sistem kerjanya, air sungai dialirkan ke pipa input sebesar dua inch dan mendorong klep buang dan terjadilah tekanan di tabung bawah (watter hamer) saat klep buang tertutup. Dan air akibat watter hammer, akan menekan klep hantar menuju tabung hampa.

“Setelah air masuk ke ruang hampa maka terjadilah tekanan dan kemudian klep hantar tersebut tertutup. Kemudian air akan masuk melalui pipa output yang akan menyebarkan air dari sungai tersebut,” ucapnya.

Ia sendiri mampu membuat pompa hidram tersebut dengan melihat tutorial yang ada di Youtube dan memanfaatkan barang – barang bekas dan mesin CNC yang dimilikinya. Di wilayah tempat tinggalnya di Desa Cranggang sebelah barat memang cukup kesulitan untuk mendapatkan air, selama ini warga mengambilnya dari Kajar dengan pipa berkilo-kilo meter.

“Desa Cranggang, khususnya Cranggang Kulon masuk kategori daerah dataran tinggi, tapi posisinya tanggung. Lokasi dukuh kami cukup jauh dari sumber mata air pegunungan, sehingga warga biasanya mengambilnya dari Desa Kajar dan Kuwukan dengan menggunakan pipa paralon,” ungkapnya

Untuk membuat pompa hidram sendiri ia menyebut hanya memerlukan biaya sekitar Rp 2 juta. Sementara biaya pembelian pipa paralon yang akan digunakan untuk menyalurkan air ke 50 hingga 60 rumah warga diperkirakan mencapai Rp 25 Juta.

“Pompa itu juga sudah kami uji coba dan saat ini sudah ada lima warga yang mau memanfaatkan pompa tersebut. Untuk dana kan nanti bisa iuran dari masyarakat (swadaya) untuk membeli pipa guna menyalurkan air dari sungai Jati Pasekan ke rumah warga ,” jelasnya

Disinggung terkait biaya perawatanya, ia mengklaim kerusakan pada pompa tersebut sangatlah minim dan lebih hemat. Perawatan hanya dengan mengganti klep yang usianya minimal bisa bertahan hingga satu tahun.

“Kalau biaya retribusi tidak ada, cuma semisal ada kerusakan mungkin ganti klep biayanya nanti bisa iuran,” tuturnya.

Disinggung terkait kendala, ia mengaku kendala utamanya ada pada debit air. Dengan membuat beberapa bendungan atau kecil ia berusaha agar debit air tersebut bisa terjaga.

“Ini sudah buat seperti tanggul sederhana dari kayu di tiga titik, tapi itu masih kurang. Dengan tujuan agar debit air bisa tetap terjaga dan air bisa tetap bersih,” tandasnya.

 

Reporter: Yuda Auliya Rahman
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...