Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Tak Banyak yang Tahu, Batik Bakaran Pati Dibuat Oleh Abdi Ndalem Majapahit di Pertengahan Abad 15

MURIANEWS, Pati – Bagi warga Pati, batik bakaran bukan lagi hal yang baru. Apalagi setiap Kamis, semua pegawai di instansi pemerintahan wajib menggunakan batik bermotif Bumi Mina Tani yang merupakan produksi dari Desa Bakaran, Kecamatan Juwana.

Namun, tidak semua warga mengetahui sejarah ditemukannya batik bakaran tersebut. Padahal, ini sangat penting sebagai pengetahuan ataupun pelestarian budaya bagi generasi masa depan.

Pengrajin senior batik tulis bakaran Bukhari Wiryo Satmoko menceritakan, batik tulis bakaran mulai muncul pada pertengahan abad 15. Dalam versinya, penemunya adalah Nyai Banowati. Dia hidup di masa kerajaan Majapahit dan sempat jadi abdi ndalem yang bertugas menyediakan pengadaan sandang dan perawat gudang pusaka.

“Tetapi karena ada satu hal masalah keyakinan yang tidak cocok dengan hati nurani Nyai Bonowati, dia pun meninggalkan Majapahit,” katanya, Kamis (8/10/2020).

Perjalanan pun dilakukam dengan menyusuri pantai utara menuju arah barat. Dalam perjalanan panjang, Nyai Banowati pun berencana untuk membuat tempat persinggahan.

Salah satu warga bergaya seolah membatik batik bakaran khas Pati. (MURIANEWS/Cholis Anwar)

Ketika sampai di hutan dekat laut (saat ini daerah Juwana), dia pun menebagi pohon. Rupanya, pohon tersebut banyak durinya. Bahkan sampai daunnya pun berduri. Sehingga, Banowati mengurungkan niatnya untuk membuat pemukiman di wilayah tersebut.

“Karena kondisi itu, Nyai Banowati kemudian melanjutkan perjalanan. Di terus menyusuri hutan hingga mendapatkan lokasi yang tepat untuk bermukim,” imbuhnya.

Sampai di tengah hutan, Banowati kembali menebangi pohon dan membuat tempat berteduh. Merasa nyaman, dia pun menetapkan niat utuk bermukim di tempat itu.

Kayu yang kering, olah Banowati pun kemudian dibakar. Abu dari sisa pembakaran itu, rupanya terbang ditiup angin. Sehingga, jatuhnya abu tersbeut selanjutnya dijadikan tapal batas.

“Karena itulah kemudian wilayah yang ditempati oleh Nyai Banowati dikenal dengan Desa Bakaran,” terangnya.

Di wilayah tersebut, kemudian ada banyak orang yang datang dengan tujuan sama seperti Nyai Banowati. Perlahan jumlah orang yang berada di hutan pun cukup banyak.

Setelah kondisi dirasa aman, Banowati pun melanjutkan kebiasaan membatik semenjak berada di Majapahit. Warga yang berada di sekitar hutan juga diberikan pengetahuan membatik.

“Motif pertama yang dibuat oleh Nyai Banowati adalah Gandrung. Setelah itu, dia juga mengembangkan motif dari Majapahit, seperti Padas Gempal, bergat ireng dan limaran,” ungkapnya.

Setiap motif mempunyai cerita dan penggunannya tersendiri. Seperti motif bergat ireng, biasanya digunakan saat takziah.

Bukari menambhakkan, sekitar tahun 1960-an, batik bakaran ini nyaris punah lantaran minimnya generasi penerus. Kemudian generasi kelima mulai bangkit kembali. Sehingga pada 1994, batik tulis bakaran ini pernah mendapatkan penghargaan dari Gubernur Jawa Tengah.

“Saya harap generasi muda dapat meneruskan batik yang sudah diakui Unesco ini. Batik jangan berhenti sampai di sini, kita harus mengorbitkan sekuat tenaga sehingga bisa bersaing dengan batik daerah lain,” pesannya.

 

Reporter: Cholis Anwar
Editor: Supriyadi

Comments
Loading...