Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Dari Hidroponik Selada Belanda, Pemuda di Kudus Ini Raup Omzet Hingga Rp 55 Juta Tiap Bulan

MURIANEWS, Kudus – Kegagalan beruntun dalam usaha hidroponik pernah dialami oleh Deni Saputra, warga Desa Wergu Kulon RT I/RW II, Kota, Kudus. Merintis hidroponik sejak 2012, Deni-sapaan akrabnya kini mulai merasakan manisnya bertani hidroponik selada impor asal Belanda.

Bahkan, dalam sebulan, pemuda kelahiran Kudus, 9 Desember 1991 itu mampu meraih omzet sampai Rp 55,2 juta dalam sebulan.

Deretan selada hijau tertata rapi di tanah seluas 1.200 meter persegi itu. Adalah Muria Farm yang dikembangkan oleh Deni. Dia memilih bertani hidroponik karena sistem kerjanya yang lebih ringan.

Selain itu, harga jualnya lebih bagus. Tak hanya itu, selada impor diklaim lebih tahan terhadap cuaca dan hama. Rasanya pun diklaim lebih enak.

”Kalau bertani hidroponik kan kerjanya enggak berat. Enggak macul-macul. Tinggal pasang paralon dan tandon sama memberi nutrisi ke seladanya setiap hari,” katanya, Rabu (07/10/2020).

Selada Belanda ditanam secara hidroponik diklaim mempunyai kualitas lebih bagus. (MURIANEWS/Vega Ma’arijil Ula)

Lahan yang disewa sampai tahun 2025 ke depan itu penuh dengan tanaman selada impor asal Belanda. Dari ketekunannya itu, dalam sehari dia mampu menjual 80 sampai 90 Kilogram selada.

Per kilonya bisa laku Rp 23 ribu. Jika dikalikan selama 30 hari, dalam sebulan omzet yang diraupnya mencapai Rp 55,2 juta.

Diakuinya, peminat selada pun berdatangan. Mulai dari resto, kafe, dan konsumen yang langsung datang ke kebunnya itu. Konsumen yang membeli mulai dari Kudus, Demak, Pati, Rembang, dan Jepara.

”Peminatnya banyak. Hidroponik ini lebih segar, awet, dan rasanya lebih enak. Selain itu kalau pakai sistem hidroponik mulai dari daun seladanya sampai bawah terpakai semua,” katanya ujarnya.

Deni menjelaskan, selada hidroponik lebih bagus jika dibandingkan dengan selada konvensional.

”Kalau beli yang konvensional yang ditanam di media tanah itu biasanya kan ambilnya dari luar Kudus. Bagian akarnya sudah rusak, terus kadang sampai Kudus daunnya sudah pada lepas. Kondisinya jadi kurang bagus,” ujar dia.

Pemuda yang hobi berolahraga itu membagikan tips merawat hidroponik kepada MURIANEWS.

”Pertama itu selada yang di atas nampan dipindah ke talang. Lalu, dicek PH nutrisinya. Begitu terus setiap hari diulang-ulang,” tuturnya.

Ke depannya, Deni berniat mengembangkan usahanya itu. Ia berencaba membudidayakan melon Korea dan juga tomat.

 

Reporter: Vega Ma’arijil Ula
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...