Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Wagub Jateng Sebut Covid-19 Uji Rasa Kemanusiaan dan Gotong Royong

MURIANEWS, Semarang  Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen menyebut, setidaknya ada delapan poin peradaban yang berubah usai Covid-19 melanda hampir seluruh belahan dunia. Menurutnya, pandemi ini telah menguji rasa kemanusiaan dan gotong royong.

Ia mengatakan, salah satu hal yang berubah yakni kesadaran baru bagi manusia untuk hidup dengan kualitas kesehatan yang lebih baik untuk meningkatkan imunitas.

Kemudian, melakukan segala aktivitas semaksimal mungkin dengan memanfaatkan teknologi, memaksa manusia untuk hidup lebih efisien dan berhemat, dan menguji rasa kemanusiaan dan semangat gotong royong.

“Menguji rasa kemanusiaan dan semangat gotong royong. Ini yang perlu, bahwa negara kita adalah negara gotong royong. Kalau dulu ada (jargon) mangan ra mangan sing penting kumpul (makan tidak makan yang penting berkumpul). Artinya apa, kita bisa merasakan kekurangan, kepahitan sesama kita,” katanya.

Untuk merespon kondisi ini, menurutnya Pemprov Jateng membentuk program Jogo Tonggo yang anggotanya dari berbagai elemen masyarakat.

Mulai dasa wisma, karangtaruna, linmas, bidan desa, posyandu, pendamping PKH, pendamping desa, pendamping pertanian, hingga warga. Mereka saling bergotong royong dan berkoordinasi dengan pemerintah, untuk menangani pandemi Covid-19.

Senada disampaikan Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh, Rembang, KH Mustofa Bisri atau akrab disapa Gus Mus. Jika ada yang bertanya kapan pandemic ini berakhir, jawabannya ada pada masyarakat sendiri.

Apakah masyarakat mau bergotong royong untuk mengatasinya atau tidak. Contoh kecilnya adalah patuh memakai masker.

Mengenakan masker bukan karena takut tertular, tetapi juga ada perasaan takut menularkan kepada yang lain. Gambaran sederhana itu menunjukkan bagaimana arti persaudaraan.

“Kalau orang bertanya ini sampai kapan? Jawabannya ada pada kita. Kita mau bersama-sama atau tidak. Kalau tidak, di sini membangun, di sini merusak, di sana merobohkan, tidak akan jadi tatanan itu. Kalau disini mengobati, di sana memaparkan virus, kita harus bersama-sama,” jelasnya.

Pandemi ini menurut Gus Mus memberikan pelajaran yang dasyat kepada manusia. Membuat manusia berpikir dan menyadari, bahwa musibah yang menimpa dirasakan semua sakitnya oleh semua pihak.

“Bencana seperti ini, tidak lagi ada yang mengatakan, Amerika jauh, Arab jauh, semua terkena. Kita sebagai anak manusia seperti mendapat tamparan dari Allah SWT untuk kita ingat bahwa kita bersaudara,” pungkasnya.

Reporter: Ali Muntoha
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...