Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Mbah Rogo Moyo, Prajurit Diponegoro yang Jadi Arsitek Pembangunan Pendapa Kabupaten Kudus

MURIANEWS, Kudus – Di Dukuh Proko Winong, Desa Kaliwungu, Kecamatan Kaliwungu, Kudus terdapat sebuah makam yang dikenal sebagai Kuburan Gebyog. Tempat ini merupakan persemayaman sosok bernama Mbah Rogo Moyo.

Sosok ini dikenal sebagai penyebar Islam di wilayah setempat. Ia juga merupakan prajurit pahlawan legendaris Pangeran Diponegoro.

Juru Kunci Makam Mbah Rogo Moyo, Miran (60) menceritakan awal mula kedatangan Mbah Rogo Moyo ke daerah tersebut. Saat itu Pangeran Diponegoro ditahan oleh Belanda. Mbah Rogo Moyopun mencari tempat yang aman hingga akhirnya sampailah ke Dukuh Proko Winong sekitar tahun 1.800.

“Mbah Rogo Moyo datang tidak sendiri, bersama teman seperjuanganya yakni Mbah Rogo Perti, Mbah Rogo Joyo, Mbah Rogo Dadi, serta juru masak Mbok Sumi dan Mbok Rasemi. Di sini menyebarkan Islam,” katanya, Jumat (2/10/2020).

Selain dikenal mempunyai ilmu tinggi di bidang agama, Mbah Rogo Moyo juga dikenal sebagai ahli pertukangan kayu.

Hingga pada saat itu Mbah Rogo Moyo membuat karya berupa joglo pencu tumpang songo yang sangat indah.

Makam Gebyog Mbah Rogo Moyo di Kaliwungu, Kudus. (MURIANEWS/Yuda Auliya Rahman)

Keahlianya tersebut didengar oleh Bupati Kudus ketiga yakni Kanjeng Kyai Adipati Ario Tjondronegoro 2. Setelah itu Mbah Rogo Moyo dipercaya untuk membuat bangunan Pendapa Kudus dengan ciri khas Joglo Pencu Tumpang Songo.

“Pendapa Kabupaten Kudus, yang saat ini berdiri itu merupakan salah satu peninggalan Mbah Rogo Moyo. Di desa ini juga masih ada satu joglo pencu yang masih asli buatan Mbah Rogo Moyo. Yakni di rumah Pak Munasri. Karya beliau aslinya tidak hanya di Indonesia, di China  juga ada,” jelasnya.

Setelah Mbah Rogo Moyo meninggal, Bupati saat itu kemudain mencari di mana Mbah Rogo Moyo dimakamkan. Setelah ditemukan, makamnya kemudian dinamai Kuburan Gebyog. Ada alasan kenapa dinamai Gebyog.

“Setelah pak bupati tau makamnya kemudian dinamai Kuburan Gebyog. Soalnya, yang melingkari gebyok zaman dulu itu pak bupati,” ujarnya.

Selain meninggalkan karya joglo pencu tumpang songo, ada juga peninggalan lain yakni tempat yang digunakan untuk pasujudan di Masjid Alit Darul Istiqomah. Ada juga buku dan beberapa alat pertukangan yang masih tersimpan hingga sekarang.

“Ada buku peninggalan beliau, tapi hingga sekarang belum ada yang bisa menerjemahkan. Kalau alat pertukangan yakni jangka dan alat siku yang terbuat dari besi,” ucap generasi ketiga yang menjadi juru kunci tersebut.

Haul Mbah Rogo Moyo Sendiri, jatuh pada 13 Muharam yang biasanya diperingati dengan berbagai agenda. Mulai dari kirab hingga berbagai pertunjukan.

“Biasanya kirab itu dari pasujudan (Masjid Alit Darul Istiqomah) sampai Kuburan Gebyog. Warga sini juga kalau punya hajat seperti mantenan, sunatan tidak di hari Rabu Legi, karena hari tersebut dipercaya sebagai hari meninggalnya Mbah Rogo Moyo,” ungkapnya.

 

Reporter : Yuda Auliya Rahman
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...