Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Menengok Sejarah Kretek di Kudus, Bermula dari Obat Sesak Napas Haji Djamhari

MURIANEWS, Kudus – Selain terkenal dengan wisata religinya, Kabupaten Kudus juga dikenal sebagai pusat produksi rokok kretek terbesar. Dari sinilah Kudus mendapat julukannya sebagai Kota Kretek.

Sejarah kretek di Kudus tak terlepas dari sosok pribumi bernama Haji Djamhari. Indri Siswanti, anggota Peneliti dan Pengembangan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Sejarah saat menjadi narasumber ‘Belajar di Museum’ Senin (28/9/2020), memaparkan bagaimana sejarah Haji Djamhari dan perkembangan rokok kretek di Kudus.

“Haji Djamhari menciptakan rokok kretek sekitar abad ke-19 pada kurun waktu sekitar tahun 1870 sampai 1880-an. Pada awalnya, Haji Djamhari merasa sakit sesak napas, dan kemudian ia mengambil minyak cengkih dan dioleskan di dada dan tubuhnya,” katanya.

Setelah dioleskan, lantas sesak napasnya pun reda. Dari situlah Haji Djamhari kemudian melakukan eksperimen dengan menghaluskan cengkih dan mencampurnya dengan tembakau untuk dilinting dengan menggunakan daun jagung kering (klobot), sehingga menjadi rokok.

“Kala itu melinting rokok sudah menjadi kebiasaan kaum pria. Kemudian Haji Djamhari rutin mengisap rokok kretek ciptaanya, dan merasa sakit sesak napas yang dideritanya hilang. Penemuan tersebut lantas dikabarkan kepada kerabat dekatnya. Dan dengan cepat kabar tersebut menjadi buah bibir di kalangan masyarakat,” ucapnya.

Semakin hari makin banyak orang yang memesan rokok kretek buatan Haji Djamhari, dari mulai masyarakat kecil, hingga kalangan pejabat pemerintahan ikut memesan dan menikmati rokok tersebut sebagai obat.

Museum Kretek Kudus juga menyimpan berbagai jenis tembakau untuk produksi rokok kretek. (MURIANEWS/Yuda Auliya Rahman)

Ia menjelaskan, nama kretek sendiri diambil dari suara yang muncul saat rokok ini dibakar.

“Awal mula nama kretek itu saat cengkih terbakar dan diisap berbunyi ‘kemretek’. Maka rokok temuan Haji Djamhari dikenal dengan nama rokok kretek. Di tahun 1890 Haji Djamhari meninggal dan meninggalkan temuan rokok kretek tersebut,” ujarnya.

Sepuluh tahun berikutnya, penemuan Haji Djamhari menjadi dagangan yang menjanjikan di tangan Nitisemito, yang memulai produksi rokok kretek sekitar tahun 1903. Semakin hari usaha rokoknya semakin berkembang, dan di tahun 1908 usahanya resmi terdaftar dengan merek Tjap Bal Tiga.

“Kala itu, Nitisemito menjadi pengusaha Indonesia pertama yang melakukan promosi dengan menyewa pesawat Fokker dan menyebar pamflet dari udara hingga menuju Bandung dan Jakarta. Dan juga memberikan piring dan cangkir dengan merek dagangannya kepada konsumen,” jelasnya.

Nitisemito pun menjadi pengusaha rokok pribumi yang mendapat julukan sebagai Raja Kretek karena keberhasilannya memasarkan rokok ini.

Kiprah perusahaan rokok di Kudus awalnya berada di tangan orang pribumi. Namun, setelah para pengusaha pribumi mencapai keberhasilan dalam waktu singkat, kemudian para pengusaha Tionghoa mengikuti jejak mereka.

“Persaingan ketat muncul. Di tahun 1981 persaingan tersebut menjadi puncaknya, hingga menjadi salah satu faktor penyebab adanya kerusuhan hebat di Kudus pada tanggal 31 Oktober 1918. Peristiwa itu menjadikan pengusaha pribumi ditangkap dan diajukan ke pengadilan untuk dijatuhi hukuman,” ungkapnya.

Akibat peristiwa itu, industri rokok pribumi mengalami kemunduran. Dan sebaliknya para pengusaha Tionghoa berhasil memperkuat posisi mereka dalam industri rokok kretek di Kudus. Terlebih setelah pemerintahan Hindia Belanda sangat menaruh perhatian pada industri rokok kretek di Kudus.

“Karena industri rokok kretek memberikan kontribusi besar di bidang pajak dan juga menyerap tenaga kerja. Saat itu banyak perusahaan rokok kretek yang dianggap belum membayar pajak. Salah satunya Nitisemito,” ujar dia.

Nitisemito pun diminta untuk melunasi utang pajaknya. Namun, pemerintah memberikan kebijakan dan kesempatan untuk tetap membuka industri rokok kretek tapi tetap mengangsur utang pajak.

Singkat cerita, pada masa pemerintahan Jepang, perusahaan rokok mengalami kemunduran yang sangat drastis. Bahkan, banyak perusahaan rokok kretek terpaksa menutup perusahaannya. Dikarenakan waktu itu tembakau sangat sulit didapatkan.

“Pemerintah Jepang saat itu membatasi penanaman tembakau dan diganti dengan tanaman jarak yang diperlukan untuk bahan membuat minyak pelumas berbagai mesin, seperti senjata hingga mesin pesawat terbang. Karena pada saat itu Pemerintah Jepang sedang melakukan perang,” imbuhnya.

Tak hanya tembakau, cengkih waktu itu juga sulit didapatkan karena impor dari Zanzibar dihentikan. Sehingga para pengusaha terpaksa menggantinya dengan tangkai daun cengkih, bahkan ada juga yang mengganti dari rajangan daun jambu bol.

Pada masa Sekutu masuk dan awal kemerdekaan, perusahaan rokok kembali menggeliat. Sebab, impor cengkih kembali diperbolehkan, bahkan secara besar – besaran. Sehingga perusahaan rokok di Kudus mampu menghasilkan kualitas rokok kretek dengan mutu tinggi.

“Namun saat itu perusahaan rokok kretek Bal Tiga milik Nitisemito gonjang-ganjing. Munculnya perusahaan rokok lain yang mempersempit pasar Bal Tiga menjadi salah satu faktor, ditambah lagi Perang Dunia II pada tahun 1942 menyebabkan krisis ekonomi global,” tuturnya.

Masuknya tentara Jepang juga ikut memperburuk usaha Nitisemito. Di tahun 1955 akhirnya sisa kerajaan kretek Nitisemito dibagikan rata kepada ahli warisnya.

Ia juga menyebutkan beberapa tokoh dan pendiri rokok kretek di Kudus yakni Rokok Obat Klobot Haji Djamhari 1870 hingga 1880, PR Bal Tiga tahun 1906 didirikan Nitisemito, PR Goenoeng Kedoe tahun 1910 didirikan M Atmowidjodo, PR Delima taHun 1918 didirikan HM Ashadi dan PR Minak Djinggo dan Nojorono tahun 1932 didirikan Koo Djie Siong.

Selain itu ada juga PR Djambu Bol tahun 1937 didirikan HA Ma’ruf, PR Sukun tahun 1948 didirikan MC Wartono dan PR Djarum 1951 didirikan  Oei Wie Gwan.

“Mengenali sejarah kretek di Kabupaten Kudus bisa dipelajari di Museum Kretek, yang menyajikan display-display tentang sejarah kretek di Kudus,” tandasya.

 

Reporter:  Yuda Auliya Rahman
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...