Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Klaster Warung Muncul di Kota Semarang, Ganjar Turun Tangan

MURIANEWS, Semarang – Salah satu warung kepala manyung di Kota Semarang menjadi klaster penyebaran Covid-19. Dari warung yang terletak di Krobokan, Kota Semarang itu, muncul 22 orang positif, bahkan satu di antaranya meninggal dunia.

Gubernur Jateng Ganjar Pranowo menyatakan memberikan perhatian serius terhadap klaster ini. Ia pun langsung ikut turun tangan, agar klaster warung tak lagi bermunculan.

Rabu (23/9/2020) Ganjar sidak ke sejumlah warung dan pujasera di  Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) serta beberapa warung di Jalan Jolotundo Kota Semarang.

Di tempat-tempat itu, Ganjar mengedukasi pemilik dan pembeli untuk ketat menerapkan protokol kesehatan.

Ganjar mengingatkan semua pemilik warung untuk melakukan penataan dengan mengatur tempat usahanya masing-masing. Satu meja, dibatasi hanya boleh diduduki untuk dua atau maksimal tiga orang. Cara duduknya pun tak boleh berhadap-hadapan, yakni harus menyilang.

Bahkan, Ganjar dengan sengaja membawa lakban dari rumah untuk memberikan tanda silang di meja atau kursi warung-warung yang ia kunjungi itu.

Tujuannya untuk memberikan contoh bagaimana penataan yang benar di warung agar semuanya bisa berjalan aman.

Niki disilang, sing disilang ora intuk dilungguhi (ini dikasih tanda silang, yang ada tandanya tidak boleh diduduki). Bakule ngilekke, sing tuku ampun nglungguhi solasi (pedagangnya mengingatkan, pembelinya tidak boleh duduk di atas solasi). Ini saya kasih contoh satu meja, nanti lainnya diselesaikan sendiri,” kata Ganjar.

Tak hanya memasang tanda dengan solasi, Ganjar juga mengangkat kursi-kursi milik pedagang guna memberikan contoh bagaimana penataan yang benar.

Hal itu ia lakukan saat ia sidak di Soto Ayam Jolotundo Kota Semarang. Saat Ganjar datang, warung soto itu penuh pelanggan dan makan dengan jarak yang berhimpitan.

“Ini kalau jaraknya begini, bahaya. Harus ditata, caranya kursinya dikurangi. Ayo saiki, kene tak rewangi (sini saya bantu),” ucap Ganjar sambil mengangkat kursi-kursi yang ada di warung itu.

Ganjar mengatakan tidak melarang warung untuk tetap buka. Asal, protokol kesehatan benar-benar diterapkan. Pemilik warung diminta tegas mengingatkan pembeli yang abai pada protokol kesehatan.

“Demi menjaga bersama. Kalau warungnya kecil dan sudah penuh, pemilik tolong jangan mempersilahkan tamu baru masuk. Bisa juga kursinya ditata di depan warung atau pinggir jalan, agar pembeli tetap bisa jajan. Saya izinkan, asal tidak mengganggu arus lalulintas,” tegasnya.

Septi (35) pemilik warung makan di Pujasera MAJT menyatakan akan menerapkan protokol kesehatan ketat seperti yang diperintahkan.

“Nggak keberatan meskipun meja dan kursi saya dikasih solasi, ya biar aman semuanya untuk menghindari penularan penyakit. Kita kan nggak tahu, kalau duduk berdekatan di warung ini tidak boleh. Sekarang jadi paham, setelah di kasih tahu pak Ganjar. Nanti meja lainnya saya tata ulang,” ujarnya.

Selain sidak warung, Ganjar juga berkeliling ke sejumlah pasar tradisional dan kampung-kampung. Tujuannya sama, yakni untuk mengedukasi masyarakat agar tertib melaksanakan protokol kesehatan.

Di sejumlah pasar tradisional dan kampung yang dikunjungi Ganjar, masih banyak ditemukan warga yang abai dengan tidak memakai masker. Setelah memberi masker, Ganjar mengingatkan agar mereka tertib, sebab jika tidak tertib, maka pemerintah tidak akan segan menutup tempat usaha mereka.

 

Reporter: Ali Muntoha
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...