Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Madu Khas Dukuhwaringin Kudus Didorong Bisa Tembus Pasar Ekspor

MURIANEWS, Kudus – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus kini tengah memacu pengembangan desa wisata di daerahnya. Salah satunya dengan mendorong pengembangan ekonomi kreatif dari UMKM di desa-desa wisata.

Salah satunya produk madu di Desa Dukuhwaringin, Kecamatan Dawe, Kudus. Desa ini memang dikenal sebagai sentra penghasil madu di Kudus.

Hal tersebut diungkapkan Kepala Dinas Pariwisata Bergas Catursasi Penanggungan saat ditemu di Kantor Disbudpar, Selasa (22/9/2020) siang.

“Potensi-potensi hasil wisata UMKM  bisa dikembangkan. Kami bukan fokus ke UMKMnya tapi fokus ke ekonomi kreatifnya, karena Disbudpar juga dibawah naungan Kementerian Pariwisata Ekonomi dan Kreatif (Kemenparekraf),” katanya.

Ia mengatakan hasil madu yang sudah ada bisa dikembangkan agar bernilai jual tinggi dengan target pemasaran ekspor.

“Namun ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi, agar hasil madu bisa sesuai standar international,” ucapnya.

Lebih lanjut ia mengatakan, hasil Madu di Dukuhwaringin masih perlu dikembangkan dengan tahapan yang harus dilalui. Seperti proses menggunakan alat vakum untuk mengurangi kadar air, sehingga kekentalannya sesuai pasar international.

Baca: Menengok Sentra Madu di Dukuhwaringin Kudus, Gembalakan Lebah Hingga Probolinggo

Setelah hasil madu dikembangkan dengan proses vakum, dan mencapai standar international, selanjutnya, melalui komunitas international madu, itu bisa di jual ke luar negeri.

“Nilainya sangat luar biasa. Yang awalnya harga madu ratusan ribu per liter, bisa jadi jutaan rupiah. Perbandingannya bisa mencapai sepuluh kali lipat,” ungkapnya.

Pihaknya juga sudah berkoordinasi dengan salah satu UMKM penghasil madu di Dukuhwaringin, konsultan kemenparekraf,dan profesor ahli madu. Data-data  dari UMKM juga sudah dikirimkan ke ahli tersebut.

“Profesor tersebut juga ingin meneliti, selama ini kenapa Dukuhwaringin menggunakan lebah dari Australia (lebah mellifera). Bukan menggunakan lebah lokal Indonesia. Dan saat ini baru proses mengajak para peternak lebah untuk mengembangkan ekonomi kreatif tersebut, tandasnya.

 

Reporter: Yuda Auliya Rahman
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...