Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

OPINI

Kesempatan Kedua Kehidupan Narapidana

Faisal Abdurrachman Harits, S.Psi *)

KEJAHATAN yang terjadi di kalangan masyarakat saat ini merupakan hal yang menjadi pusat perhatian dari berbagai pihak, karena bisa mengubah stigma sosial bagi individu yang tinggal di suatu lingkungan tertentu. Seseorang yang melakukan kejahatan akan mendapatkan risiko yang harus diterima dengan melalui beberapa proses hukum mulai dari penyidikan hingga mendapatkan putusan dari pengadilan.

Selanjutnya pelaku kejahatan akan ditempatkan di rumah tahanan negara atau lembaga pemasyarakatan dan berganti status sosialnya menjadi seorang narapidana atau saat ini lebih dikenal dengan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP).

Kehidupan di balik jeruji besi memang sangat menarik untuk diamati. Meskipun terhalang oleh pagar tembok yang tinggi dan aturan yang ketat, bukan berarti seorang WBP tidak bisa bersinggungan dengan dunia luar sama sekali. Keluarga, teman, saudara, dan sanak keluarga diperbolehkan untuk berkunjung ke lapas /rutan dengan wajib mengikuti standar operasional prosedur yang berlaku.

Paradigma perlakuan WBP saat ini sudah mengalami perubahan. Dengan mulanya berawal dari sistem kepenjaraan menjadi sistem pemasyarakatan yang menitikberatkan pada pembinaan untuk memulihkan kesatuan hidup, kehidupan, dan penghidupan antara WBP dengan masyarakat yang dalam pelaksanaanya melibatkan tiga unsur yaitu petugas, WBP dan masyarakat yang berperan sebagai partisipasi, support, dan kontrol.

Penggantian nama penjara menjadi lembaga pemasyarakatan seiring dengan perubahan fungsinya yaitu bukan hanya untuk memidana orang, melainkan tempat untuk membina, mengayomi, dan memasyarakatkan WBP.

Pembinaan yang diberikan kepada WBP dapat berupa pembinaan kepribadian yang meliputi kerohanian, spiritual, dan jasmani sedangkan untuk pembinaan kemandirian dapat meliputi pendidikan keterampilan dan bimbingan kerja. Dengan harapan setelah menyelesaikan masa pidananya mereka memiliki bekal dan keterampilan serta dapat menyesuaikan diri kembali di masyarakat menjadi seseorang yang taat dan patuh pada hukum yang berlaku.

Selama menjalani masa pidana di lembaga pemasyarakatan, WBP yang berkelakuan baik dan memenuhi persyaratan secara substantif dan administratif dapat diusulkan untuk mendapatkan hak integrasi (Pembebasan Bersyarat, Cuti Bersyarat, Cuti Menjelang Bebas) dengan beberapa kriteria yang telah ditentukan.

Setelah mendapatkan predikat bebas bersyarat WBP akan kembali kepada ke masyarakat dan menempuh kesempatan kedua dalam kehidupan sosialnya.

Menurut pengakuan mantan WBP sebut saja dia ā€œSā€ (30), seorang klien pemasyarakatan yang saat ini menjalani program pembebasan bersyarat di bawah bimbingan dan pengawasan Balai Pemasyarakatan, kehidupannya saat ini sudah berangsur membaik dan dapat kembali beradaptasi di masyarakat.

Bermodalkan ilmu yang didapatkan selama menjalani masa pembinaan di rutan, S bekerja sebagai tukang finishing mebel di salah satu toko milik rekannya. Hal ini membuktikan bahwa seseorang yang pernah melakukan tindak pidana hingga harus menghabiskan waktunya bertahun-tahun di balik jeruji besi, masih diberi kepercayaan dan kesempatan untuk melanjutkan kehidupan yang lebih baik lagi.

Semua manusia pasti melakukan kesalahan, namun tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki diri, karena selalu ada manusia yang ingin berubah menjadi lebih baik menggapai kesempatan kedua dalam hidupnya. (*)

 

*) Penulis adalah Pembimbing Kemasyarakatan Bapas Kelas II Pati

Comments
Loading...