Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Usaha Lain Loyo karena Pandemi, Pembudidaya Koi di Kudus Ini Justru Kewalahan Layani Pesanan

MURIANEWS, Kudus – Pandemi Covid-19 telah berdampak bagi berbagai sektor, mulai dari pendidikan hingga perekomian. Namun ternyata hal tersebut tidak berlaku bagi pelaku usaha budidaya ikan koi, yang justru semakin menggeliat.

Salah satunya yakni Jamal, seorang pembudidaya ikan koi asal Desa Margorejo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus. Ia menyebut jika kondisi pandemi tidak berpangaruh bagi usahanya. Bahkan untuk memenuhi pasar lokal saja ia cukup kewalahan.

“Pandemi ini cenderung stabil, jika dihitung dari tahun ke tahun hingga saat ini permintaan pasar cenderung mengalami peningkatan. Kalau saya hobi ikan koi sudah delapan tahun, tapi untuk fokus usaha dan budidaya baru sekitar empat tahun,” kata pemilik Muria Koi Farm tersebut, Jumat (11/9/2020)

Hingga saat ini ia fokus untuk membudidayakan ikan koi seperti, Koi Sanke, Kohaku, Showa, Shiro, dan Hiutsuri. Ia sudah memiliki 20 indukan dari berbagai jenis tersebut.

Ikan koi hasil budi daya Jamal Dea Margorejo, Kudus. (MURIANEWS/Yuda Auliya Rahman)

Dari  puluhan indukan yang ia miliki, sekali pemijahan tiap indukan bisa menghasilkan 35 ribu hingga 50 ribu benih ikan koi.

“Peresentase hidup satu pijahan 60 hingga 70 persen. Namun, untuk mencapai ukuran lima hingga tujuh sentimeter biasanya hanya bisa 40 sampai 50 persen,” ucapnya.

Selain memenuhi permintaan pasar lokal, ia juga memenuhi permintaan dari luar pulau, seperti, Papua, Makasar, hingga Bali. Untuk penjualannya selain melaui offline, ia juga memasarkan ikan hasil budidayanya melaui online.

“Harga bibit koi ukuran lima sampai tujuh sentimeter mulai Rp 3 ribu hingga Rp 6 ribu. Per seribu ekor nanti harganya beda lagi. Sedangkan untuk ukuran satu sentimeter dijualnya perpaket satu pijahan dengan jumlah estimasi minimal 30 ribu ekor dengan harga Rp 3,5 juta,” ujarnya.

Menurutnya, sampai saat ini pihaknya belum bisa memenuhi permintaaan dari luar negeri. Padahal sudah ada beberapa permintaan dari berbagai negara, seperti Vietnam, Thailand dan Juga Filiphina. Namun, pihaknya terkendala di masalah pengiriman.

“Karena kesulitan pengiriman, tidak semua pesawat bisa melakukan pengiriman cairan. Yang ada di bandara di Surabaya atau Jakarta. Selain itu, karena biasanya nilai jual ke luar negeri sangat tinggi sehingga kualitas ikan juga harus benar-benar bagus,” tandasnya.

 

Reporter: Yuda Auliya Rahman
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...