Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Festival Lima Gunung Dihelat di Pati, Misi Kerahmatan Kawulawarga Jadi Perbincangan Utama

MURIANEWS, Pati – Pagelaran Festival Lima Gunung tahun ini terasa istimewa. Bagaimana tidak, Makam Mbah Soreng dan Makam Kyai Ahmad Mutamakkin Desa Kajen, Kecamatan Margoyoso turut dipilih dalam pagelaran yang rutin digelar setiap tahunnya tersebut.

Pentas di bumi pesantren tersebut dilaksanakan pada Minggu (6/9/2020) atau setelah pelaksanaan Festival Lima Gunung yang digelar di Yogjakarta dan Magelang. Hanya saja, pementasan di Pati itu digelar secara sederhana. Bahkan tak ada informasi tanggal dan tempat acara pada posternya.

Langkah itu murni dilakukan untuk menghindari datangnya penonton. Panitia pelaksana lokal Festival Lima Gunung XIX #4 memang menghormati protokol kesehatan di masa pandemi ini dengan menghindari kerumunan.

Meski begitu pelaksanaannya pun tetap terasa khidmat. Tak hanya serangkaian kesenian yang dilakukan, mereka juga menggelar doa bersama di makam kyai Ahmad Mutamakkin. Selain itu juga menggelar “donga slamet” di punden Mbah Soreng Desa Tanjungrejo, Kecamatan Margoyoso.

KH Abdullah Umar Fayyumi atau yang dikenal Gus Umar turut mengisi serasehan kebudayaan dan agama. Dalam serasehan tersebut disebutkan jika proses perjalanan spiritual dan kultural menjadi bagian proses perjalan yang harus dilalui dan dilakoni setiap manusia.

“Ada dua proses perjalanan yang dilalui dan dilakoni setiap manusia. Saya menyebut dua hal utama dari dua perjalanan itu. Pertama, perjalanan spiritual dan kedua, perjalanan kultural,” ungkap Gus Umar.

Dia melanjutkan, perjalanan spiritual mengait dan menitik pada pembentukan diri sebagai ‘kawula’ yang benar-benar ‘ngawula’ atau disebut ‘Abdullah’. Sedangkan perjalanan kultural menghukumi diri kita sebagai sekumpulan kawula-kawula yang beragam, menyatu, dan membawa misi kerahmatan.

“Kumpulan dari genapan-genapan jasadiah dan rohaniah kawula disebut ‘Ibadullah’, ‘Ibadurrohman’ atau ‘Kawulawarga’,” imbuhnya.

Sementara Gus Anik, salah satu penyelenggara mengatakan, festival ini merupakan komunikasi lintas kultur dan penyatuan antara komunitas Lima Gunung Magelang dan Laras Jagad Pati.

“Ini adalah bagian dari cara kerja mewujudkan bangunan misi kerahmatan yang dibangun atas nilai-nilai spiritualitas kawula dan semangat kultural kawulawarga,” tutupnya.

 

Reporter: Cholis Anwar
Editor: Supriyadi

Comments
Loading...