Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Keren! Pemuda Pati Ini Tuai Sukses dari Berjualan Bibit Pamelo

MURIANEWS, Pati – Abdul Hamit (30) memotong dahan bibit pamelo yang mengering. Sesekali ia mengerutkan dahi untuk menghasilkan tenaga lantaran tangkainya cukup keras untuk digunting.

Tepat pukul 11.40 WIB, ia mulai menghidupkan kran. Air yang keluar langsung disemprotkan di lahan pembibitan seluas setengah hektare yang berada di sekeliling rumahnya, yakni di Desa Bageng, Kecamatan Gembong.

Di lahan yang berada di ketinggain 720 Mdpl itu lah, Abdul saban hari harus melayani pembeli bibit jeruk pamelo. Terkadang, dirinya harus mengirim ke Tuban, Jawa Timur menggunakam mobil bak terbuka untuk memuaskan pelanggannya.

Tak hanya itu, pembeli juga datang dari Kota Kretek Kudus dan Tiongkok Kecil Lasem, Rembang. Yang mereka cari tidak lain adalah bibit jeruk pamelo.

“Dari daerah Tuban cukup banyak yang beli, kadang Lasem juga banyak. Alhamdulillah mereka menyukai bibit jeruk pamelo,” katanya sambil menunjukkan bibit jeruk pamelo yang sudah mulai berbuah.

Abdul yang juga pemilil Omah Ijo ini mengaku, untuk penjualan bibit jeruk pamelo, masa pandemi ini memang cukup tinggi. Dalam sebulan setidaknya ada 2.000 bibit jeruk pamelo yang laku terjual.

Abdul Hamit memotong dahan bibit pamelo yang layu (MURIANEWS/Cholis Anwar)

Sementara pada hari biasa, penjualan paling banyak dalam sebulan adalah 1.700 bibit pamelo. Dengan penjualan tinggi seperti itu, ia ternyata masih mampu melakoni secara mandiri. Tak punya pekerja apalagi tukang kebun.

“Semua saya kerjakan sendiri, dibantu sama ibu. Kalau pagi, biasanya yang menyiram bibit adalah Ibu,” ucapnya.

Untuk harganya sendiri, dia mengaku cukup variatif, yakni tergantung besar dan kecilnya bibit pamelo. Apabila bibit yang sudah siap buah, dirinya menjual dengan harga Rp 1 juta hingga Rp 2 juta per batangnya. Sedangkan untuk ukuran kecil dibanrol dengan harga Rp 30 ribu.

Ia pun mengaku sudah melakoni usaha pembibitan sejak 2009 silam, yakni usai lulus sekolah SMA. Awalnya, dia menjual bibit kelapa. Namun, diakui proseanya cukup susah dan membutuhkan waktu lebih lama.

Kemudian dia berpikir untuk menggali potensi yang ada di desanya. Dari situlah, dia lebih memilih bibit jeruk pamelo untuk dijual.

“Istilahnha sekali dayung, dua pulau terlampaui. Apalagi desa Bageng memnag dikenal dengan sentra jeruk pamelo. Sampai sekarang yang laku keras memang jeruk pamelo. Tetapi saya juga menjul bibit tanaman lain, seperti anggur Impor, alpukat dan lainnya,” papar Abdul.

Meski masih bujang, dia tidak minder dengan pembudidaya lain. Bahkan hal itu merupakan prestasi tersendiri dikala banyak anak muda yang abai terhadap tanaman.

 

Reporter: Cholis Anwar
Editor: Supriyadi

Comments
Loading...