Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Cerita Hananto Relawan Pengantar Jenazah Covid-19 Asal Solo, Sering Dibully Hingga Dikucilkan Masyarakat

MURIANEWS, Solo – Menjadi relawan pengantar jenazah Covid-19 memang bukan perkara mudah. Selain bisa terjangkit virus tersebut, beban sosial mulai dari dikucilkan hingga di-bully sangat memungkinkan terjadi.

Hal itu sudah dirasakan sebagian besar relawan Covid-19 di setiap daerah. Termasuk Hananto (38) pengantar jenazah Covid-19 asal Pucangsawit, Jebres, Solo.

Dikutip dari Solopos.com, Hananto mengaku sudah terbiasa mendapat perlakuan tidak mengenakan selama enam bulan terakhir.

Bully, pengucilan, bahkan kerap diminta tak datang pada acara warga lingkungan tempat tinggalnya ia terima dengan lapang dada.

Baca: Kecewa Pernyataan DKK, Tim Relawan Pemakaman Jenazah Covid-19 Kudus Mogok Kerja

Hananto sadar betul, pilihan sebagai pengantar jenazah pasien Covid-19 membuatnya rawan terpapar dan bisa menjadi pembawa virus tersebut.

Namun kalaupun kemungkinan terburuk terjadi yakni ia akhirnya tertular Covid-19, Hananto mengaku akan tetap bangga dengan pekerjaannya.

Terpapar virus corona, bagi Hananto menunjukkan ia benar-benar bekerja menjalankan tugasnya sebagai pengantar jenazah Covid-19.

Baca: Viral Video Relawan Menguburkan Jenazah Pasien Covid-19 Tanpa Cangkul di Kudus, Begini Penjelasan Camat

“Meskipun saya mendapat bully setiap datang ke lingkungan saya biasa saja. Diminta tidak datang ke acara ya biasa saja. Niat saya baik, kalau suatu saat terpapar [Covid-19], Tuhan bersama saya,” katanya, Selasa (1/9/2020).

Hananto menjelaskan pengucilan dirinya pada setiap tongkrongan karena rekan-rekannya menganggapnya membawa virus justru ia jadikan motivasi untuk selalu waspada dalam bertugas.

Pesan penyemangat dari keluarga untuk Hananto saat bertugas mengantar jenazah pasien Covid-19 di Solo. (Istimewa)

Kuncinya, kata Hananto, adalah mengawali kegiatan dengan berdoa dan jangan sampai abai pada safety ketika bertugas sebagai pengantar jenazah Covid-19.

Hananto bersyukur sejak bertugas pada Maret lalu ia dua kali rapid test dan sekali swab test hasilnya selalu negatif Covid-19.

“Setiap saya melangkah untuk menolong orang dan ikhlas pasti memperoleh bantuan Tuhan. Kalau ada jenazah pasien Covid-19 tidak ada yang mau mengubur terus bagaimana? Setiap kali bertugas saya minta keselamatan kepada Tugan, dan hingga saat ini saya baik-baik saja,” papar Hananto.

Baca: Cerita Pilu Perawat Pasien Covid-19 Diusir dari Kos 

Hananto mengakui selama enam bulan menjadi pengantar jenazah Covid-19, suara-suara tidak enak masih kerap terdengar sampai telinganya. Namun, ia memilih mendengarkan dukungan yang terus-menerus dari keluarganya.

Semula keluarga Hananto juga mengkhawatirkan dengan pilihan hidup Hananto. Namun, seiring berjalannya waktu, keluarga pun akhirnya mendukung.

Menurutnya, kekhawatiran itu karena pandemi virus corona jelas berbeda dengan pengalaman Hananto saat mengevakuasi jenazah korban bencana alam.

“Kalau saya mengevakuasi jenazah korban bencana itu jelas terlihat. Tapi ini jenazah Covid-19, virusnya tidak terlihat. Saya beri pengertian ke istri saya bahwa seluruhnya akan baik-baik saja dengan doa,” imbuhnya.

Baca: Tiga Perawat RSUD Bung Karno Diusir dari Kos, Ditelepon Ganjar Pemilik Menangis Ketakutan

Selama menjadi pengantar jenazah Covid-19, Hananto mengaku pernah tidak pulang ke rumah pada Maret, April, dan Mei. Ia memilih mengisolasi diri seusai mengantarkan jenazah karena khawatir dengan keselamatan keluarganya.

Namun, kini istri Hananto sudah terbiasa dengan tugas sang suami. Bahkan, keluarga kecilnya juga terbiasa jika tiba-tiba ia meninggalkan keluarganya saat sedang makan bersama karena tiba-tiba ada panggilan tugas mendadak.

Keluarganya juga sudah terbiasa saat kendaraannya harus putar balik saat menuju lokasi wisata karena ada panggilan mengantar jenazah.

Bahkan, mereka bisa menerima saat waktu libur Hananto tiba-tiba membatalkan karena panggilan tugas. Padahal, tugas itu bisa berlangsung mulai pagi hingga pagi lagi.

Tak jarang, saat para warga hendak memulai beraktivitas pagi hari, Hananto baru selesai bertugas.

 

Penulis: Supriyadi
Editor: Supriyadi
Sumber: Solopos

Comments
Loading...