Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Kekeringan di Grobogan Makin Meluas, Warga 62 Desa Mulai Krisis Air Bersih

MURIANEWS, Grobogan – Bencana kekeringan yang terjadi di Grobogan bertambah parah. Indikasinya bisa dilihat dengan bertambahnya jumlah desa yang mengajukan bantuan air bersih ke Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) karena wilayahnya sudah dilanda krisis air.

Kepala BPBD Grobogan Endang Sulistyoningsih mengungkapkan, hingga tanggal 24 Agustus 2020, baru ada 36 desa di enam kecamatan yang mengajukan bantuan air bersih.

Namun, sepekan kemudian atau hingga 31 Agustus 2020, jumlah desa yang mengalami kekeringan bertambah jadi 62 desa.

Dijelaskan, 62 desa yang kekeringan itu berada di sembilan kecamatan. Yakni, Kecamatan Brati (3 desa), Tawangharjo (8 desa), Kedungjati (6 desa), Tanggungharjo (3 desa), Kradenan (7 desa), Toroh (10 desa), Karangrayung (9 desa), Pulokulon (13 desa) dan Purwodadi (2 desa dan 1 kelurahan).

“Data per akhir Agustus, kekeringan sudah melanda 62 desa di sembilan kecamatan. Jumlah desa yang mengalami kekeringan dan mengajukan bantuan masih memungkinkan untuk bertambah. Berdasarkan data tahun lalu, ada lebih 100 desa yang dilanda kekeringan,” katanya, Selasa (1/9/2020).

Endang menjelaskan, terkait permintaan dari desa tersebut, pihaknya sudah mulai menyalurkan bantuan air bersih sejak Senin (24/8/2020) lalu.

Untuk kegiatan droping air bersih tahun ini, pihaknya memiliki anggaran sekitar Rp 233 juta. Dalam penyaluran bantuan air bersih itu pihaknya bekerja sama dengan PDAM Grobogan.

“Hingga 31 Agustus kemarin, total sudah kami kirimkan bantuan air bersih sebanyak 103 tangki. Bantuan air bersih akan terus kita salurkan selama ada permintaan,” ujarnya.

Untuk itu, pihaknya meminta kepada pihak desa agar segera melaporkan kondisi wilayahnya yang mengalami bencana kekeringan supaya bisa dikirimi bantuan air bersih.

 

Reporter: Dani Agus
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...