Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Harga Kedelai di Pati Anjlok, Dispertan: Panennya Melimpah

MURIANEWS, Pati – Anjloknya harga kedelai di Kabupaten Pati, selain karena pengaruh banyaknya kedelai impor dari Amerika Serikat (AS) juga karena banyaknya produksi dari petani. Apalagi, pada September ini, petani sudah mulai panen raya.

Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Dispertan) Kabupaten Pati Muhtar Efendi mengatakan, saat ini Kabupaten Pati memang sudah memasuki musim panen raya. Karena hasil produksi melimpah, harganya pun turun menjadi Rp 6.200 per kilogram.

“Biasanya kalau musim panen memang seperti itu. Tapi pada bulan Juli lalu, harga kedelai sempat tinggi,” katanya saat dikonfirmasi, Selasa (1/9/2020).

Ia menyebutkan, di Kabupaten Pati setidaknya ada tiga kecamatan yang menjadi sentra kedelai. Ketiga kecamatan tersebut adalah di Kecamatan Kayen, Gabus, dan Tambakromo. Hasilnya, dalam satu tahun, petani kedelai mampu memproduksi hingga 2.558 ton.

Jumlah tersebut, lanjutnya, sebenarnya mengalami penurunan apabila dibandingkan dengan tahn-tahun sebelumnya. Di tahun 2016 saja, hasil produksi kedelai mencapai 6.205 ton dan tahun 2017 sebanyak 4.970 ton.

Faktor penurunan produksi ini memang karena pada musim panen, harga kedelai cenderung anjlok.

“Karena harganya anjlok, petani banyak yang beralih ke tanaman lain, seperti padi, kacag hijau dan lain sebagainya,” imbuh Muhtar.

Sementara untuk menyetabilkan harga kedelai tersebut, pihaknya mengaku terus melakukan koordinasi dengan Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disdagperin) Pati. Setidaknya, petani kedelai bisa bernafas lega apabila harga jual mencapai Rp 8.000 per kilogram.

“Di bawah harga itu, petani sudah rugi. Apalagi kalau harganya sampai di bawah jauh,” jelasnya.

Sedangkan untuk kedelai impor sendiri, pihaknya mengaku tidak begitu mengetahui ikhwal tersebut. Mengingat, untuk kebutuhan kedelain lokal sendiri, sejauh ini produksinya masih kurang.

 

Reporter: Cholis Anwar
Editor: Supriyadi

Comments
Loading...