Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Di Hadapan Demonstran Plt Bupati Kudus Perbolehkan Pentas Kesenian, Asal…

MURIANEWS, Kudus – Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Kudus HM Hartopo menemui para pekerja seni yang mengelar aksi demo di Alun-Alun Simpang Tujuh Senin, (31/8/2020) siang. Dia pun sempat berdialog dengan para pekerja seni.

Di kesempatan tersebut, Hartopo menerangkan jika sebenarnya pentas kesenian boleh digelar. Namun memang harus mengedepankan protokol kesehatan.

“Jika tidak, bukan salah kami jika memang nanti dibubarkan,” katanya di sela diaognya dengan para pekerja seni.

Protokol kesehatan itu seperti menyediakan sarana prasarana cuci tangan. Serta adanya pihak satuan tugas yang menjaga di pintu masuk untuk menertibkan pengunjung tak bermasker.

“Selain itu juga harus menyediakan pintu masuk dan pintu keluar supaya tidak papasan, pekerja seni juga harus memakai face shield,” ujarnya.

Untuk kesenian di lapangan terbuka, pihaknya pun meminta agar panitia memberi sekat untuk pembatas. Supaya orang masuk hanyalah para undangan saja. “Sehingga terdata,  orang asing tidak boleh masuk,” kata dia.

Hartopo menyebut, dalam Peraturan Bupati (Perbup) Kudus Nomor 41 Tahun 2020 tentang Penerapan Disiplin dan Penegakan Hukum Protokol Kesehatan, sudah diperbolehkan untuk menggelar acara kesenian. “Namun memang harus ada tanggung jawab protokol kesehatannya,” lanjutnya.

Kemudian, penyelenggara pentas juga diwajibkan mengantongi izin dari Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19.  “Barulah mereka bisa menggelar acara,” tandasnya.

Baca: Lama Tak Boleh Manggung Sampai Gadaikan Perabot Rumah, Pekerja Seni di Kudus Gelar Demo

Diberitakan sebelumnya, ratusan pekerja seni di Kudus menggelar aksi protes terkiat kebijakan Pemkab Kudus yang melarang adanya hiburan bersifat kerumunan.

Mereka menganggap kebijakan tersebut mematikan sumber penghasilan. Selain itu, para pekerja seni juga merasa telah di diskriminasi aturan tersebut.

Hal tersebut, dikarenakan tidak adanya job hiburan selama kebijakan tersebut diberlakukan. Padahal, banyak dari masyarakat Kudus masih berkerumun di sejumlah pusat-pusat perbelanjaan maupun lokasi-lokasi lainnya.

“Kesenian bukan biang covid. Lama-lama kami mati karena kelaparan, bukan karena corona,” ucap Mardi, salah satu anggota Persatuan Artis Musik Melayu Indonesia (PAMMI) Kudus di sela aksi.

 

Reporter: Anggara Jiwandhana
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...