Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Sosok Raden Ayu Semangkin, Dikenal Sebagai Penjaga Kalinyamat Hingga Senopati Perang Mataram

MURIANEWS, Jepara – Raden Ayu Mas Semangkin yang kemudian dikenal sebagai Ibu Mas atau Ratu Mas Kagaluhan memang sangat dikenal di warga Mayong Lor dan Mayong Kidul.

Selain karena diyakini sebagai pendiri kedua desa tersebut, ternyata Raden Ayu Sumangkin juga dikenal sebagai senopati perang Kerajaan Mataram. Lantas seperti apa sosoknya?

Hadi Prayitno, Pemerhati Budaya Jepara menjelaskan, Raden Ayu Sumangkin adalah putri kedua Pangeran Haryo Bagus Mukmin atau yang lebih dikenal sebagai Sunan Prawoto. Dia juga merupakan cucu dari Sultan Trenggono dan cicit dari Raden Patah, Sultan Demak.

Setelah  Sunan Prawoto sebagai akibat dari kemelut yang terjadi di kasultanan Demak, kedua putrinya, yaitu Raden Ayu Semangkin dan Raden Ayu Prihatin kemudian diasuh oleh Ratu Kalinyamat yang juga adik Sunan Prawoto. Ratu Kalinyamat yang menjadi penguasa di Jepara kemudian mendidik dua keponakannya ini.

“Di bawah asuhan Ratu Kalinyamat, keduanya kemudian menjelma menjadi perempuan yang tangguh. Dalam asuhan bibinya, keduanya juga dilatih ilmu kanugaran,” katanya.

Baca: Pandemi, Haul RAM Semangkin Sang Penjaga Bumi Kalinyamat Jepara Digelar Sederhana

“Dari beberapa literatur, keduanya juga sempat diperistri oleh Sutowijoyo yang setelah meninggalkan Pajang kemudian mendirikan Kerajaan Mataram dengan gelar  Panembahan Senopati Ing Alaga Sayidin Panatagama. Mataram kemudian berlanjut sampai Surakarta dan Jogyakarta hingga sekarang,” ujar Hadi Priyanto, Senin (31/8/2020).

Karena kemampuannya, Semangkin dan Prihatin juga sempat diangkat menjadi senopati perang. Sebagai senopati perang, keduanya juga sempat terlibat dalam banyak peperangan dengan beberapa kerajaan yang memberontak Mataram. Di antaranya Panarukan, Pasuruan, Cirebon, Galuh dan Pati.

Kirab Haul RAM Semangkin digelar sederhana oleh warga mayong. (MURIANEWS/Budi Erje)

Pada persoalan yang ada  dikawasan Pati, Adipati Pati, Wasis Joyo Kusumo diketahui melakukan perlawaan atas kekuasaan Mataram. Semangkin merasa terpanggil, karena pernah tinggal bersama bibinya Ratu Kalinyamat.

Bersama dua orang tamtama perang yang sakti mandraguna yaitu Ki Brojo Penggingtaan dan Ki Tanujayan, akhirnya mereka berangkat. Panembahan Senopati yang mengerti tentang kesaktian Adipati Pati Wasis Joyo Kusumo, akhirnya juga mengirim empat orang perwira untuk membantu Semangkin.

Mereka adalah Kanjeng Tumenggung Cinde Amoh,  Kanjeng Tumenggung Roro Meladi, Kanjeng Tumenggung Candang Lawe, dan Raden Sembrono.

Bekerjasama dengan Tumenggung Sukolilo, Raden Ayu Semangkin akhirnya mampu mengalahkan perlawanan Adipati Pati, Wasis Joyo Kusumo. Usai tugas ini Raden Ayu Semangkin, berubah pikiran untuk tidak kembali ke Mataram.

Setelah mendapat izin dari Panembahan Senopati, diputuskannya untuk menuju ke Bumi Kalinyamatan bersama dua abdi setianya, Ki Brojo Penggingtaan dan Ki Tanujayan.

“Dari sinilah, awal mengapa akhirnya Raden Ayu Semangkin kemudian dikenal sebagai tokoh berpengaruh di masyarakat Mayong dan sekitarnya. Setelah menumpas pemberontakan adipati Pati, dirinya membuka lahan di Bumi Kalinyamatan bersama dua abdi setianya. Dia ingin menjaga Bumi Kalinyamatan setelah Ratu Kalinyamat, meninggal,” jelas Hadi Priyanto.

Raden Mas Semangkin sendiri kemudian memilih tinggal di wilayah perbatasan. Saat itu kodisinya masih berupa hutan belantara. Di kawasan ini, dia juga akhirnya kenal dengan Idha Gurnandhi yang memiliki padepokan di Singorojo hingga dikenal sebagai Datuk Singorojo (Desa Singorojo). Setelah itu Raden Mas Ayu Semangkin bersama prajuritnya memulai membuka hutan untuk pemukiman.

Bersama dengan Ki Brojo Penggingtaan, dirinya membuka hutan dari sisi utara. Sedangngkan Ki Tanujayan memulai membuka hutan dari sisi selatan.  Setelah dibangun pemukiman, Raden Ayu Semangkin membuat dua dukuh di masing-masing wilayah.

Di wilayah yang dibukanya dinamakan Mayong Lor, sementara yang dibuka oleh Ki Tanujayan dinamai dengan Mayong Kidul. Nama inilah yang kemudian dikenal hingga sekarang, sebagai desa Mayong Lor dan Mayong Kidul.

 

Reporter: Budi Erje
Editor: Supriyadi

Comments
Loading...