Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Penurunan Produksi Kopi Muria Musim Ini Dianggap Paling Parah

MURIANEWS, Kudus – Musim kemarau tahun ini mengakibatkan para petani kopi Muria yang berada di Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus mengalami penurunan hasil panen kopi. Penurunanya hingga 50 persen bahkan lebih.

Seperti yang dirasakan salah seorang petani kopi Sondi Widyanto (55). Ia mengungkapkan, selama 30 tahun berkecimpung menjadi petani kopi, baru tahun ini yang hasilnya paling sedikit.
Di tahun ini ia hanya bisa memanen kopi sekitar tiga ton ceri kopi (masih buah) robusta di lahan seluas tiga hektare.

“Dulu paling sedikit itu enam ton. Bahkan kalau musimnya sangat bagus bisa 15 ton saat musim panen. Ini memang karena kemarau panjang hasilnya sangat sedikit, belum lagi nanti kalau sudah diolah menjadi biji,” katanya, Kamis (27/8/2020).

Senada juga diungkapkan petani lain, Zainuri (46) yang juga mengaku hasil panen kopi Muria tahun ini sangat menurun. Tahun sebelumnya ia mengaku bisa memanen hingga 2,5 ton, namun untuk tahun ini hanya bisa memanen sekitar 1,5 ton dari luas lahan 2000 meter persegi.

“Ya memang musimnya seperti ini, kemarau panjang, hasil panen tidak bisa maksimal. Kalau di sini musim panen ada di bulan Agustus sampai awal September, panennya itu satu tahun sekali,” ucapnya.

Meski demikian, untuk kualitas kopinya masih sangat bagus. Karena kopi Muria sendiri, di tahun 2019 sudah mendapat peringkat 12 dari Specialty Coffe Association of Indonesia (SCAI).

Sementara dengan menurunya jumlah hasil panen tersebut, ia kini tengah fokus untuk stek kopi arabika yang akan dikembangkan di daerah Pegunungan Muria. Namun, yang menjadi kendala yakni faktor ketinggian ideal penanaman kopi arabika.

“Kalau idealnya memang harus di ketinggian di atas 1.000 mdpl, sedangkan lahan saya yang paling tinggi hanya 1.050 mdpl. Ini saya fokus pembibitan arabika dulu dan baru proses stek sudah ada sekitar seratus pohon,” tandasnya.

 

Reporter: Yuda Auliya Rahman
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...