Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Gelar Webinar, Mahasiswa Universitas Trunojoyo Asal Jepara Kupas Tuntas Jepara

MURIANEWS, Jepara – Mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura yang tergabung dalam Suara Mahasiswa Jepara (SWARA) menggelar Webinar penguatan identitas lokal bertema Kupas Tuntas Jepara, Kini, Dulu, dan Nanti di  ruang rapat Diskominfo Jepara, Kamis (27/08/2020).

Ketua Swara, Fani menyatakan kegiatan Webinar yang digelar merupakan upaya pihaknya untuk bisa memberikan sumbangsih bagi Jepara.

Para mahasiswa Jepara yang bersekolah di Universitas Trunojoyo, tetap berusaha untuk ikut memberikan pemikiran untuk kemajuan Jepara. Dari webinar yang diselenggarakan, diharapkan ada sebuah spirit yang bisa digali untuk kemajuan Jepara.

Pihaknya juga berharap, dari kegiatan ini para mahasiswa yang bersekolah di Universitas Trunojoyo bisa memahami lebih mendalam mengenai Jepara. Bagaimana Jepara pada masa lalu, sekarang, dan apa yang diharapkan terjadi ke depan.

“Kami sekolah di Madura, jauh dari Jepara. Namun kami tentu tetap menjadi bagian dari Jepara. Kegiatan webinar ini adalah salah satu bagian dari kecintaan kami terhadap Jepara tanah kelahiran kami. Melalui kegiatan ini kami ingin mengenalkan lebih dalam mengenai Jepara dari dulu, kini dan ke depannya,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Yayasan Kartini Indonesia Hadi Priyanto menyampaikan materi napak tilas perjuangan Ratu Kalinyamat dalam kesempatan itu memaparkan bagaimana peran Ratu Kalinyamat membentuk Jepara di masa lampau.

Pemerhati Jepara ini juga kembali menyampaikan gagasan mengenai usulan gelar Pahlawan Nasional bagi sang Nyai Ratu.

Pengajuan Ratu Kalinyamat sebagai pahlawan nasional pertama kali dilakukan antara tahun 2008 – 2009. Saat itu, pengajuan ditolak akibat syarat-syarat serta bukti sejarah yang diperlukan belum terpenuhi.

Upaya selanjutnya dilakukan dalam tahun 2019 lalu, diprakarsai oleh Yayasan Dharma Bhakti Lestari. Sampai saat ini, proses pengajuan sudah sampai pada tahap kajian akademik untuk kemudian diajukan kepada Kementrian Sosial (Kemensos).

“Jika kita tidak mengenali Ratu Kalinyamat, maka kita akan kehilangan jejak sejarah dan berarti kita kehilangan jati diri kita. Kita masih kekurangan bukti-bukti primer. Seperti buku-buku yang ditulis pada masa Ratu kalinyamat, pada pengajuan pertama,” katanya.

“Di Kesempatan terakhir ini kita berharap bisa terealisasi. Ratu Kalinyamat menjadi Pahlawan Nasional akan menjadi jembatan sosialisasi dan lebih memberi pemanahan tentang penguatan identitas lokal bagi anak muda 10 – 15 tahun ke depannya, supaya sejarah Bumi Kartini tetap terjaga,” tambah Hadi Priyanto.

 

Reporter: Budi Erje
Editor: Supriyadi

Comments
Loading...