Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Panen Raya, Harga Garam di Tingkat Petani Jepara Malah Anjlok

MURIANEWS, Jepara – Mulai awal bulan ini, sejumlah petani garam di Kabupaten Jepara sudah mulai memasuki masa panen garam. Namun, sejak awal panen perdana harga garam sudah tidak bersahabat. Harganya di tingkat petani justru anjlok hanya Rp 225 sampai Rp 300 per kilogram.

Abdul Lafik salah satu tokoh petani garam di Desa Panggung, Kecamatan Kedung, Jepara, mengatakan panen raya memang sudah terjadi dua bulan. Sejak panen pertama hingga sekarang rata-rata sudah mendapatkan 30 ton setiap hektarenya.

”Masa Panen dimulai awal Juli-Agustus. Kemungkinan kapan akan berakhirnya masih belum bisa dipastikan, namun kemungkinan September akhir sudah selesai. tergantung cuaca,” katanya, Kamis (27/8/2020).

Ia menyebutkan, untuk garam pada saat musim panen tahun ini, angkanya sempat berada di kisaran Rp 23 ribu – Rp 25 ribu untuk satu tombong dengan berat kurang lebih 90 kg.

Harga itu terbentuk pada awal Juli lalu, saat panen raya dimulai oleh para petani. Namun memasuki bulan  Agustus ini, harga garam di tingkat petani mengalami penurunan, menjadi Rp 20 ribu – Rp 23 ribu untuk satu tombong. Harga ini lebih rendah jika dibandingkan harga yang terbentuk pada tahun lalu.

“Setelah sebulan panen harganya anjlog. Pada awalnya bisa sampai Rp 270 per kilogram, tapi sekarang turun menjadi Rp 225 – Rp 250 per kilogram. Harga ini lebih rendah jika dibandingkan harga tahun lalu yang mencapai Rp30 ribu,” ujarnya.

Di wilayah Kedung, lanjutnya, ada sekitar 500-an petani garam. Mereka menggarap lahan seluas kurang lebih 600-an hektare. Pada tahun lalu, secara keseluruhan rata-rata mereka mampu memproduksi 120 ton setiap hektarenya.

Tata niaga garam yang terjadi sampai sejauh ini memang belum memihak mereka. Karena harga garam lokal dihargai dengan angka yang rendah.

Dibukanya kran import garam oleh pemerintah, menurut Abdul Lafik menjadi penyebab anjloknya harga garam lokal dalam beberapa tahun terakhir. Pada tahun 2019 lalu, import garam dibuka untuk jumlah sampai 2,7 juta ton.

Sedangkan tahun ini pemerintah malah kembali menaikan nilai import garam sampai sekitar 3,2 juta ton. Dampaknya para petani garam lokal, mengalami kendala dalam persaingan  harga ini.

“Dari hasil panen tahun lalu, masih ada sekitar 70 persen yang masih belum terjual. Sedangkan panen tahun ini, sebagian ada yang langsung dijual, juga ada yang disimpan di gudang penyimpanan. Para petani garam tentu juga terdesak kebutuhan hidup,” tambahnya.

 

Reporter: Budi Erje
Editor: Supriyadi

Comments
Loading...