Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Eksis Sejak Masa Penjajahan, Perajin Parut Tradisional di Kudus Tetap Bertahan di Era Serba Mesin

MURIANEWS, Kudus – Di tengah modernitas peralatan dapur, alat parut dari kayu tak kehilangan pamornya. Meski fungsinya banyak diganti dengan alat-alat modern, namun alat ini tetap jadi andalan oleh sebagian orang.

Masih banyak yang menggunakan parut tradisional ini lantaran dipercaya, santan hasil parutannya lebih kental daripada menggunakan mesin.

Di tengah perkembangan zaman yang semakin canggih dan serba instan, tak mengurungkan niat para perajin parut tradisional asal Dukuh Lemah Gunung, Desa Krandon, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus ini untuk tetap eksis bersaing dan memproduksi parut tradisional.

Salah satunya Yuliati (47), yang mengaku sudah semenjak kelas dua sekolah dasar ia sudah membantu orang tuanya untuk memproduksi parut tradisional.

Parut kayu tradisional buatan Yuliati, yang meneruskan usaha nenek moyangnya. (MURIANEWS/Yuda Auliya Rahman)

Bahkan menurutnya kerajinan parut ini sudah ada di era nenek moyangnya saat masih zaman penjajahan Belanda puluhan tahun silam.

Dalam satu hari, ia bisa membuat parut tradisional itu sebanyak tujuh hingga delapan buah, itupun ia kerjakan sambil mengerjakan kegiatan ibu rumah tangganya.

“Usaha kerajinan parut tradisional ini sudah turun-temurun dari nenek moyang dulu. Saya sendiri sudah generasi ke sekian. Di Dukuh Lemah Gunung ini banyak yang para perajin parut hingga sekarang,” katanya Minggu (23/8/2020).

Dengan bermodalkan media meja kayu sederhana, palu dan tang catut pipih yang sudah dimodifikasi ia membuat parut yang berbahan dasar potongan kayu jati yang sudah dihaluskan. Kawat baja limbah kapal yang dipotong kecil-kecil, ditancapkan di permukaan kayu jati yang sudah terbentuk rapi.

“Kayu jati saya beli sudah jadi terbentuk, yang terbuat dari limbah mebel. Untuk ukuran kecil satunya dihargai Rp 2 ribu. Sedangkan untuk kawat baja limbah kapal beli kiloan harganya sekarang naik Rp 13 ribu perkilogram, kalau dulu masih Rp 11 ribu,” ucapnya.

Ia mengaku, meski di tengah modernisasi, parutnya tersebut selalu laku. Bahkan tak sampai sebulan, satu orang pengepul bisa mengambil samlai seratus buah.

Namun hal tersebut berlaku sebelum adanya pandemi.

“Kalau pas ada pandemi, pengepul bisa mengambil lebih dari satu bulan. Itu juga jumlahnya dikurangi kadang 50 biji sampai 80 biji. Bahannya juga sekarang susah, kalau cari kawat baja harus ke Semarang,” jelasnya.

Sedangkan untuk harga parut tradisionalnya sendiri, ia menjualnya dengan harga Rp 12 ribu sampai Rp 25 ribu tergantung besar kecil ukuran parut dan ukuran kawatnya.

“Kalau pengepul ya harganya beda, harga itu untuk pengecer. Biasanya pengepul itu ambilya tidak pilih-pilih kondisi barang seadanya ya diambil, beda lagi kalau pengecer,” tandasnya.

 

Reporter: Yuda Auliya Rahman
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...