Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Derita UMKM Jenang Kudus Saat Pandemi, Lima Bulan Tak Bisa Produksi Hingga Rugi Miliaran

MURIANEWS, Kudus – Virus corona nampaknya benar-benar memukul usaha di sektor kecil menengah di Kudus. Tak jarang, sejumlah industri-industri rumahan pun dibuat gulung tikar karena adanya wabah tersebut.

Kebijakan dari pemerintah terkait adanya larangan beraktivitas di luar rumah pun jadi titik balik mulai gulung tikarnya sejumlah sektor usaha. Mulai dari sektor konveksi hingga berbagai macam olahan makanan.

Di Kudus sendiri, salah satu pengusaha jenang rumahan bermerk ‘Hidayah’ pun merasakan dampaknya.  Bejo Suyanto, sang pemilik usaha mengaku sudah berhenti produksi sejak lima bulan lalu.

Apesnya lagi, dia sudah mengambil pinjaman untuk produksi besar-besaran sesaat sebelum pandemi. Namun selang beberapa waktu, corona mewabah di Indonesia dan memengaruhi sektor pariwisata.

“Sebelum pandemi, saya sudah mengirimkan jenang-jenang saya ke sejumlah toko oleh-oleh di Yogyakarta, Magelang, sampai Sidoarjo. Namun selang beberapa saat pemerintah menutup sektor pariwisata,” katanya ketika ditemui di rumah produksinya di Desa Kaliputu RT 8 RW 1, Kudus.

Setelah pemerintah menutup sektor pariwisata, lanjut dia, semua jenang yang telah dikirim akhirnya dikembalikan. Hingga akhirnya menggunung dan kedaluwarsa di gudang penyimpanan. “Jika dihitung untung ruginya, bisa semiliaran rupiah,” kata dia.

Jenang-jenang yang sudah kedaluwarsa pun tak bisa langsung dibuang begitu saja. Bejo harus membuangnya sedikit demi sedikit. Jika tidak, petugas kebersihan akan menggerutu padanya.

“Jika banyak-banyak buangnya nanti kasihan petugasnya juga, berat,” lanjut dia.

Sampai saat ini, pihaknya masih menerima pengembalian dari sejumlah pelanggannya karena sudah lewati tanggal kedaluwarsa. Bejo mengatakan, jika dihitung secara keseluruhan, jenang yang dikembalikan bisa mencapai satu ton.

“Jika memang sudah kedaluwarsa ya harus dibuang semua,” tutur dia.

Pihaknya pun berharap dinas-dinas terkait bisa memperhatikan nasibnya dan para pelaku usaha UMKM yang mungkin juga mengalami hal yang sama.

Mengingat untuk saat ini, pihaknya mengaku belum bisa bangkit dan belum bisa memproduksi lagi. Dikarenakan modalnya sudah dihabiskan sebelum pandemi.

“Tapi hasilnya malah di luar dugaan, saya sudah tidak ada modal produksi, mesin-mesin saya juga sudah banyak jaring laba-labanya karena lama tak terpakai. Saya harap ada bantuan dari pemerintah bagi kami yang terdampak pandemi,” tandasnya.

 

Reporter: Anggara Jiwandhana
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...