Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Kian Banyak Tikus Berdasi, Anis Sholeh Baasyin: Kita Belum Merdeka

MURIANEWS, Pati- Maraknya kasus korupsi yang menjarah diberbagai instansi pemerintaahan, menjadikan makna kemerdekaan kian kabur. Bahkan dengan adanya tikus berdasi itu merupakan wujud ketidakmerdekaan.

Hal itu disampaikan oleh Anis Sholeh Baasyin dalam Suluk Maleman yang bertajuk Daulat Manusia Dan Dunia Yang Kehilangan Makna secara daring, Sabtu (15/8/2020).

“Salah satu wujud kemerdekaan harusnya diwujudkan dengan merdeka dari nafsu dan syahwat. Kemerdekaan tertinggi harusnya tidak terikat pada apapun kecuali pada Tuhan,” katanya.

Hal ini juga turut diamini oleh Budi Maryono, budayawan yang juga menjadi narasumber. Dia menyebut, konsep merdeka seperti itu adalah sangat fundamental. Sebab, masyarakat tak akan memiliki ketergantungan maupun menghamba selain pada Tuhan.

“Mereka akan benar-benar merdeka. Tak akan melakukan korupsi atau berbuat sewenang-wenang. Mereka tidak akan melakukan apapun yang melanggar kemerdekaan orang lain maupun melakukan tindakan terlarang untuk memenuhi nafsunya,” terangnya.

Sikap korup sendiri menjadi wujud ketakutan masyarakat jika nantinya tidak cukup hartanya. Begitu pula upaya curang pedagang dan bentuk ketidak adilan lainnya. Hal itu tentunya menunjukkan betapa orang tersebut tidak merdeka pada dirinya sendiri.

“Mereka lupa bahwa Tuhan tentu mencukupi rejeki seluruh hambanya. Mereka menghamba pada sesuatu selain Tuhan hingga membuat mereka tak mampu merdeka dengan dirinya sendiri,” tambahnya.

Manusia sendiri bisa terperosok lantaran tidak mengerti dirinya sendiri. Begitu pula dalam lingkup berbangsa juga bisa hancur bilamana tidak tahu jati dirinya.

“Seperti dilihat katanya demokrasi kekuasaan tertinggi pada rakyat. Tapi sekarang ini wakil rakyat justru merasa lebih berkuasa daripada yang memberi kuasa itu sendiri,” tegasnya.

Sementara Prof Dr Saratri Wilonoyudho menyebut, jika seseorang yang berbuat seenaknya justru menunjukkan ketidakmerdekaan. Karena manusia memiliki peranan masing-masing untuk menata hubungan antar manusia. Begitu pula dengan ajaran diciptakannya manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku.

“Maka dari itu di momen kemerdekaan ini kita patut bersyukur dan berbangga dengan keberagaman yang ada di Indonesia. Ratusan suku yang bisa bersepakat bersama tentu menjadi sesuatu yang begitu luar biasa. Keberagaman yang dimanajemen dengan baik tentu akan membuat bangsa ini menjadi bangsa yang besar,” tandasnya.

 

Reporter: Cholis Anwar
Editor: Supriyadi

Comments
Loading...