Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Bikin Trenyuh, Kisah Dua Anak Yatim Piatu di Grobogan Agar Bisa Belajar Daring

MURIANEWS, Grobogan – Pembelajaran daring yang diterapkan dalam masa pandemi Covid-19 ini membuat kesulitan bagi banyak siswa. Kondisi ini juga dialami oleh kakak beradik Muhammad Rezki Maulana (12) dan Riyanto Mustofa (8).

Kedua bersaudara ini tinggal di Desa Plosorejo, Kecamatan Tawangharjo, Grobogan.

Keduanya sama-sama siswa Madrasah Ibtidaiyah (MI) di desa tersebut. Maulana saat ini sudah kelas VI dan adiknya Riyanto masih kelas II.

Kedua anak ini sudah yatim piatu sehingga tidak merasakan lagi kasih sayang orang tua. Ayahnya sudah meninggal sekitar empat tahun lalu. Setahun kemudian, ibunya yang meninggal.

Sejak orang tuanya meninggal, keduanya saat ini tinggal bersama Rasiyo (62) dan Sumirah (62), kakek dan neneknya yang hanya bekerja jadi buruh tani.

Mereka menempati sebuah rumah berukuran sekitar 4×6 meter dengan dinding bambu dan masih berlantai tanah.

Muhammad Rezki Maulana (12) dan Riyanto Mustofa (8) bersama neneknya tinggal di rumah yang tak layak. (MURIANEWS/Dani Agus)

Di dalam rumah sempit itu tidak terdapat banyak perabotan. Hanya ada beberapa perabot yang kondisinya sudah usang.

Untuk kebutuhan penerangan di dalam rumah, masih menumpang jaringan listrik milik tetangga.

Dengan kondisi yang serba terbatas seperti itu, kedua anak tersebut mengalami kesulitan untuk belajar secara daring, karena kakek dan neneknya tidak mampu membelikan smartphone atau gawai.

Untuk pembelajaran secara daring, keduanya terpaksa harus pinjam HP milik tetangga atau temannya.

“Cucu saya biasanya nunut (numpang) HP milik tetangga atau temannya untuk bisa mengikuti pelajaran sekolah. Terus terang, saya tidak mampu membelikan HP buat mereka,” kata Sumirah, nenek Maulana dan Riyanto.

Selain tidak bisa membelikan gawai, Sumirah mengaku juga tidak bisa mendampingi cucunya dalam belajar. Sehari-hari, kedua cucunya belajar sendiri.

Sering kali Maulana yang membantu adiknya ketika mengalami kesulitan saat mengerjakan tugas.

“Saya berharap wabah corona ini segera berakhir. Dengan demikian, cucu saya tidak repot dan bisa kembali sekolah seperti biasanya,” harapnya.

Meski memiliki keterbatasan ekonomi, namun kedua anak itu tetap semangat belajar untuk meraih cita-cita. Saat ditanya, Maulana mengaku akan belajar giat biar bisa lulus MI dengan nilai bagus dan melanjutkan sekolah ke jenjang SMP.

“Saya mau sekolah terus biar bisa jadi pilot,” katanya dengan penuh semangat.

Mendengar kakaknya melontarkan kata-kata itu, adiknya Riyanto langsung menyahut. “Kalau aku cita-citanya pingin jadi polisi,” cetusnya.

 

Reporter: Dani Agus
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...