Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Awalnya Hobi, Ikan Predator Pemuda Asal Kudus Ini Akhirnya Jadi Pembawa Cuan

MURIANEWS, Kudus – Memelihara ikan saat ini tengah menjadi tren tersendiri. Apalagi di masa pandemi seperti ini, di tengah imbauan pemerintah untuk work form home (WFH), memelihara ikan bisa menjadi solusi untuk menghilangkan stres dan kejenuhan saat di rumah.

Ikan predator menjadi salah satu yang menjadi banyak pilihan masyarakat untuk dipelihara. Tak sedikit pula orang yang memanfaatkan peluang tersebut sebagai usaha sampingan.

Salah satunya pemuda asal Dukuh Sengon Pogog, Desa Mejobo, Kecamatan Mejobo, Kudus yang bernama Ali Sahab (24). Saat ini ia mempunyai bisnis ikan predator yang ia namai Luthfi Aquatic.

Diceritakannya, awal mula ia berjualan ikan predator memang berawal dari hobinya memelihara ikan hias. Namun, saat  itu ia hanya mempunyai ikan cupang yang diternak dan saat proses pembesaran ia selalu gagal.

Ia pun mencoba membiakkan ikan predator. Ia memilih Arwana Brazil Silver untuk uji coba. Dan ternyata ikan ini mampu membawa cuan (untung) berlimpah.

”Awal tahun 2019 saya mulai beli ikan predator Arwana Brazil Silver dua ekor, terus saya iseng posting malah laku semua dan peminatnya banyak, untungnya juga lumayan. Dari situ mulai saya tekuni di akhir 2019. Ini sudah berjalan selama delapan bulan,” ujar pria yang juga mempunyai usaha produksi cakar ayam itu.

Ali Sahab (24) memberikan makan ikan predator yang dijualnya. (MURIANEWS/ Yuda Auliya Rahman)

Ia menyatakan, ada beberapa jenis ikan predator yang dijualnya seperti Channa, Peacock Bass, Arwana, Oscar, Belida Albino, Palmas hingga Giant Trevally. Ada juga ikan pendamping predator seperti Kaviat dan Yellow Feng-Feng.

“Harganya bervariasi tergantung jenis dan ukuran ikan. Channa mulai Rp 50 ribu hingga Rp 1 juta, Peacock Bass mulai Rp 180 ribu-Rp 350 ribu, Arwana mulai Rp 100 ribu-Rp 2,5 Juta,” terangnya.

Ada juga Giant Trevally yang biasa ia jual dengan harga sekitar Rp 60 ribu, Blida Albino Rp 550 ribu. ”Kalau ikan kaviat biasanya pendamping ikan predator biasanya makan kotoran ikan,” ujarnya.

Untuk perawatan, lanjut Ali, tidaklah terlalu susah. Cukup dengan air mengalir sebagai penyuplai oksigen, dan diberi makanan berupa udang kering, ikan kecil, dan tambahan pellet untuk selingan.

“Untuk warna agar pekat saya sering pakai udang kering dan kadang saya kasih pellet red premium. Di dasar akuarium saya juga kasih pasir malang merah atau hitam, agar tidak mudah keruh airnya,” imbuhnya.

Sementara, untuk pemasaranya ia menjual melalui media sosial seperti Facebook, Instagram, dan juga WhatsApp. Hingga saat ini, selain Kudus ia biasa mengirim ikan predatornya tersebut hingga ke luar kota, seperti, Jepara, Pati, Semarang, Demak, Rembang, hingga Surabaya.

“Satu hari bisa laku sepuluh hingga 15 ekor. Kalau sepi ya minimal bisa lima ekor yang terjual. Selain dari Kudus pelanggan dari luar kota paling banyak dari Pati, malah pernah ada orang Surabaya juga yang kesini,” tandasnya.

 

Reporter: Yuda Auliya Rahman
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...