Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Mbah Parwan Pembuat Layangan Legendaris di Kudus, Belasan Tahun Produksi Layangan Lipat Istimewa

MURIANEWS, Kudus – Layang-layang atau yang sering disebut juga layangan menjadi alat permainan yang tak lekang zaman. Peminatnya tak hanya anak-anak, tapi juga kalangan muda dan tua, bahkan di beberapa daerah sering digelar lomba.

Pada umumnya layangan berbentuk segi empat, namun saat ini layangan sering dimodifikasi dengan berbagai bentuk. Mulai dari karakter hewan, naga, burung dan lainnya.

Di Kabupaten Kudus ada seorang kakek yang sudah belasan tahun menggeluti kerajinan layangan. Kakek itu bernama Parwan, usianya kini sudah mencapai 80 tahun.

Kakek yang tinggal di Desa Ploso RT 1 RW 4, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus ini bisa dibilang maestronya layangan. Berbagai jenis layangan telah ia ciptakan, peminatnya tersebar di beberapa kota.

Diceritakannya ia mulai belajar membuat layangan sendiri sekitar tahun 70an. Berawal dari tetangga yang memberi bambu, kemudian ia mencoba membuat layangan dengan bahan seadanya.

“Awal saya lihat layangan ada yang bentuknya bagus-bagus. Setelah itu saya diberi Pak Supar (tetangganya) bambu terus saya coba buat layangan kecil dengan bahan plastik. Setelah itu ada orang minat, ya saya jual,” katanya, Selasa (4/8/2020).

Mbah Parwan tengah membuat layangan karakter. Sudah 15 tahun ia melakoni usaha ini. (MURIANEWS/Yuda Auliya Rahman)

Setelah berjalannya waktu, permintaan yang datang semakin banyak. Bahkan pembeli asal Jakarta memintanya membuat layangan berbahan dasar kain yang bisa dilipat dan dimasukkan di dalam koper.

“Karena ada pesanan saya mencoba buat layangan berbahan dasar kain dan bisa dilipat ditaruh koper. Waktu itu saya masih berjualan kayu bakar, dan saya tekuni buat dan jual layangan sudah semenjak 15 tahun lalu sampai sekarang,” ucapnya.

Sejak saat itu, ia mengaku mulai membuat lebih banyaj layangan dengan aneka bentuk mulai dari yang kecil biasa hingga berbentuk karakter seperti kupu kupu, kelelawar, garuda, terjun payung, capung hingga karakter Batman. Pembelinya pun tak hanya dari Kudus, bahkan Demak, Semarang hingga Jakarta.

“Kalau yang dari luar kota kebanyakan pas momen Lebaran pulang kampung nanti dibuat oleh-oleh,” ujarnya.

Harga layangan karyanya pun cukup murah. Untuk layangan biasa, ia menjualnya dengan harga seribu rupiah.
Sementara layangann dengan karakter khusus, dipatok mulai dari Rp 30 ribu hingga Rp 50 ribu, tergantung besar kecilnya ukuran layangan.

Ia menyatakan yang menjadikan layangan buatanya berbeda dengan yang lain yakni bisa dilipat.

Selain itu, layangan buatanya dipastikan bisa terbang karena sebelum dijual sudah dipastikan presisi pembuatannya dan selalu dicoba terlebih dahulu.

“Setelah jadi saya coba terbangkan, jadi pembeli tidak kecewa. Pasti bisa terbang,” terangnya.

Ia mengaku dalam satu hari bisa memproduksi layangan karakter sebanyak dua hingga tiga unit. Dan menjelang Hari Kemerdekaan ini ia mengaku kebanjiran order, tiap ada layangan yang dipajang, hari itu juga pasti laku, bahkan sekarang ia sudah tidak memiliki stok sama sekali.

“Saya memang tidak menerima pesanan. Kalau ada bisa diambil, sudah tua sekarang hanya bisa buat dua sampai tiga layangan karakter saja per hari, ini sudah tidak ada stok layangan kecil dan besar kosong semua. Biasanya Januari sampai Maret saya fokus buat stok sampai enam ribu layangan kecil yang seribuan. Setelah bulan itu baru memproduksi yang layangan karakter,” terangnya.

Usaha yang sudah ditekuninya selama 15 tahun tersebut, menurutnya bisa mencukupi kehidupannya sehari-hari.

“Banyak yang meremehkan jual layangan seperti saya. Saya satu tahun bisa mengumpulkan uang bersih dari hasil layangan Rp 10 juta hingga Rp 15 juta,” tandasnya.

 

Reporter: Yuda Auliya Rahman
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...