Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Prihatin Kasus Covid-19 Terus Melonjak, Seniman Jepara Gelar Ruwatan Sukerta

MURIANEWS, Jepara – Kelompok seniman dan budayawan Jepara yang tergabung dalam Aliansi Lintas Kesenian dan Budaya (ALKB) Jepara, menggelar aksi laku prihatin, Senin (13/7/2020). Mereka melakukan ritual untuk membuang atau ruwatan sukerta (bencana) yang terjadi terkait pandemi Covid-19.

Aksi ini merupakan respon dari para seniman dan budayawan atas perkembangan pandemi Covid-19 yang semakin melonjak dan tak terkendali dari hari ke hari.

Sekitar 25 orang seniman dari lintas kesenian dan budayawan melakukan aksi di tiga lokasi. Masing-masing di Bundaran Patung Tiga Pahlawan Perempuan (Ngabul), Patung Kartini (Pemuda) dan Tugu Pancasila (Alun-alun Jepara).

Baca: Protes Penanganan Covid, Dua Seniman Jepara Tapa Pepe di Alun-Alun, Satu Lagi Long March dari Mayong

Di masing-masing lokasi para seniman melakukan ritual tolak sukerta dengan menyiramkan air dari sembilan mata air yang diambil dari sejumlah lokasi di Jepara.

Harapannya, air yang disiramkan bisa segera mendapatkan berkah dari Tuhan dan membuat pandemic segera berlalu dari wilayah Jepara dan Indonesia.

Koordinator aksi Laku Prihatin para seniman Jepara Tigor Sitegar menyatakan, saat ini ada sekitar 1.500 orang kalangan seniman yang terdampak Covid-19.

Baca: Minta Diberi Izin Pertunjukan, Puluhan Seniman Pati Geruduk Kantor DPRD

Dalam empat bulan terakhir penghidupan mereka terhenti tanpa kejelasan. Mereka tidak bisa manggung dan mendapatkan penghasilan karena larangan terkait dengan pandemi Covid-19 yang terjadi.

“Kami berharap nasib kami ini bisa menjadi bagian yang mendapatkan perhatian dari para pemangku kebijakan di Jepara. Sudah empat bulan kami tidak memiliki penghasilan dari profesi kami sebagai seniman. Kami ingin ada kejelasan mengenai pandemic ini,” ujar Tigor Sitegar, Senin (13/7/2020).

Hal senada disampaikan oleh Lukito. MC dari salah satu grub ndangdut terkenal di Jepara. Menurutnya, dunia kesenian di Jepara menjadi salah satu yang paling terdampak dari adanya pandemi Covid ini.

Baca: Minta Diizinkan Pentas Lagi, Puluhan Seniman Blora Gelar Aksi di Depan Kantor Bupati

Sejauh ini, nasib para seniman juga tidak mendapatkan perhatian dari para pemangku kepentingan di Jepara. Pihaknya berharap, secepatnya bisa kembali manggung dan mendapatkan penghasilan.

“Anda bisa bayangkan, dalam empat bulan ini kami sama sekali tidak bisa menerima order. Keluarga kami butuh makan untuk bisa bertahan hidup. Tapi apakah ada perhatian bagi kami para seniman ini? Semua orang sibuk sendiri-sendiri dan tidak pernah memikirkan bagaimana kami harus bertahan dalam situasi ini,” keluh Lukito, Senin (13/7/2020).

Sementara itu, Rhoby Shani, Sekretaris Dewan Kesenian Jepara (DKJ) menyatakan pihaknya bisa memahami apa yang saat ini dirasakan oleh para seniman. Situasi pandemic saat ini memang sangat berdampak bagi para seniman. Khususnya mereka yang benar-benar menempatkan kesenian sebagai ladang kehidupannya.

Baca: Cerita Pilu Seniman Pati di Masa Pandemi, Jual Barang Rumah Tangga untuk Menyambung Hidup

DKJ sendiri sebenarnya sudah diinstruksikan untuk melakukan pendataan terkait jumlah seniman yang ada di Jepara. Dari daftar yang sudah disusun, ada sekitar 1.100-an seniman yang sudah terdata.

Data itu juga sudah disampaikan ke Disparta Jepara, selaku pihak yang meminta dilakukan pendataan. Maksud dari pendataan ini pihaknya tidak mengetahui secara jelas tujuannya. Namun pihaknya mengira bahwa ini ada kaitannya dengan program penanganan dampak Covid-19 di Jepara.

Baca: Kasus Positif Covid di Jepara Pagi Ini Tembus 694 Orang

“Data yang ada sudah kami sampaikan ke Disparta Jepara. Tindak lanjutnya bagaimana kami tidak mengetahuinya. Tidak ada lagi kabar mengenai hal ini,” ujar Rhoby Sani secara terpisah.

Jika diruntut lebih jauh lagi, maka aka nada banyak sektor yang juga terdampak. Dunia kesenian Jepara dalam hal ini juga menyangkut para pemilik usaha tenda dan sound sistem. Saat dunia kesenian terhenti, maka bisa dipastikan mereka juga menghadapi situasi yang sama.

 

Reporter: Budi Erje
Editor: Supriyadi

Comments
Loading...