Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Guru Matematika di Kudus Teliti Kerugian Sisa Nasi Sehabis Makan, Begini Hasilnya

MURIANEWS, Kudus – Pengajar matematika di SMP Kanisius Kudus M Basuki Sugita menyuarakan gerakan makan tanpa sisa nasi, harus segera digalakkan. Itu dilakukan usai dia meneliti kerugian yang dihasilkan dari kebiasaan rakyat Indonesia yang sering menyisakan butiran nasi putih sehabis makan.

Dalam penelitiannya, masyarakat Indonesia, per tahunnya bisa membuang secara sia-sia uang senilai Rp 515 miliar dari sisa nasi.

Jumlah tersebut didapat dari butir-butir nasi yang disisakan orang-orang Indonesia tiap kali makannya.

Penelitian tersebut, ia lakukan selama bulan Mei, Juni dan Juli 2020. Kemudian diperoleh fakta jika satu orang Indonesia rata-rata menyisakan rata tiga butir nasi putih sehabis makan.

Dalam keterangan tertulisnya, Basuki mengatakan dalam penelitian itu ia mengambil sampel di 15 tempat makan yang berbeda. Yakni di Semarang, Demak, Kudus, Jepara dan Pati.

Pengambilan sampel dilakukan secara  acak mulai warung di pasar, pinggir jalan, rumah makan Padang sampai restauran ternama. “Penelitian ada tiga tahap,” ucap dia.

Untuk tahap pertama, yakni mencari nilai harga satu butir nasi putih. Kedua menghitung manual sisa nasi putih sehabis makan, dan terakhir mencari jawaban lewat kuisioner yang disebar acak di media sosial.

Responden ditentukan berusia 10 tahun ke atas dengan alasan pada usia tersebut orang bebas mengambil nasi sendiri, bukan diambilkan orang lain atau orang tua.

“Dari kumpulan sampel tersebut diperoleh data nilai ekonomis dari satu butir nasi putih adalah Rp 0,7234,” katanya.

Prosesnya, nasi yang dibeli dari warung atau restauran ditimbang beratnya lebih dulu. Kemudian semua harga dikonversi ke Rp 250 dan ditimbang lagi. Butiran nasi putih senilai Rp 250 inilah yang dihitung satu butir demi satu butir.

“Dengan perhitungan matematika sederhana akan mudah diperoleh harga satu butir nasi putih,” rinci Basuki.

Dari perhitungan manual 223 responden yang tersebar mulai dari Weleri (Kendal), Semarang, Kudus sampai Surabaya rata-rata potensi sisa nasi putih sehabis makan mencapai 19 butir.

Dalam penghitungan manual, katanya, responden betul-betul menghitung sisa nasi di piring. Sisa nol bukan berarti  menghabiskan semua nasi putih, namun responden pada waktu tertentu  tidak makan nasi.

Sementara rata-rata sisa nasi putih dari jawaban kuisioner 434 responden dari berbagai kota di Pulau Jawa, sampai Kupang dan Sumatera Utara, beda jauh signifikan dibanding metode perhitungan manual.

Jika perhitungan manual rata-rata sisa nasi 19 butir,  sementara dari metode  kuisioner tercatat dalam rentang (0-5) butir. “Mayoritas responden sebanyak 77,4% menyisakan nasi putih (0-5) butir, sedang sisa rentang (5-10) butir dipilih 10,4% responden,” rinci Basuki.

Ada perbedaan rata-rata sisa nasi sehabis makan antara perhitungan manual dan kuisioner. Untuk itu, lanjut dia, sisa nasi putih diambil dari nilai median rentang (0-5) atau tiga butir sisa nasi putih per orangnya.

“Sisa itu kami ambil yang terbawah dan kami yakin dalam kenyataan sehari-hari sisa nasi sehabis makan jauh melebihi tiga butir. Apalagi kalau melihat perilaku orang makan di warung atau saat ada orang punya hajat,” papar Basuki.

Sementara pada proyeksi kantor Badan Pusat Statistik (BPS) jumlah penduduk Indonesia tahun 2018 berusia 10 tahun ke atas tercatat 216.875.000 orang.

Sehingga potensi kerugian ekonomis dari sisa nasi putih dengan rumus sisa nasi perhari x jumlah hari setahun x nilai 1 butir nasi putih x jumlah penduduk berusia 10 tahun ke atas  adalah (9 x 365 x Rp 0,7234 x 216.875.000)  atau setara  Rp 515.375.026.875/tahun.

“Jika akumulasi uang sisa nasi putih di atas dibagikan kepada 24,79 juta jiwa orang miskin (BPS September 2019) maka satu jiwa orang miskin mendapat uang senilai Rp 20.789 atau setara harga 2 kg beras kelas lokal saat ini,” tandasnya.

 

Reporter: Anggara Jiwandhana
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...