Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

GTPP Covid-19 Jepara Disarankan Gunakan Filosopi Ing Madya Mangun Karso dalam Perangi Corona

MURIANEWS, Jepara – Perkembangan penularan Covid-19 di Jepara yang terus meningkat, membuat beberapa pihak akhirnya angkat bicara. Salah satunya dokter senior di Jepara, dr Nurkukuh.

Tokoh kesehatan terkemuka di Kota Ukir ini menjelaskan, kegiatan Test Tracing Terapi (3T)  yang dilakukan oleh Gugus Tugas Percepatan Penanganan (GTPP) Covid-19 Jepara, sudah on the track, dalam usaha memutus rantai penularan.

Namun usaha tersebut harus diimbangi dengan perubahan perilaku di masyarakat untuk bisa dengan ketat dan disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan.

Situasi yang terjadi di Jepara menurutnya menimbulkan kondisi yang lambat laun bisa ‘menyakiti’ tenaga kesehatan. Perhitungannya, jika hanya ada 20 persen masyarakat yang memiliki kesadaran untuk menerapkan  protokol kesehatan, maka rumah sakit akan kebanjiran pasien.

Dampak lebih jauh, kebutuhan karantina membubung tinggi danmembutuhkan jaring pengaman sosial yang  biayanya juga membubung tinggi. Hal ini bisa terjadi karena yang terdampak jumlahnya juga meningkat.

”Bisa saja kegiatan 3 T dibikin kendor, tes dikurangi, nggak usah tracing. Hanya terapi saja bagi yang sakit yang dilakukan, laporan pasien positif covid pasti menurun, sedikit. Namun tinggal nunggu munculnya klaster baru. Bisa saja klaster ini dibiarkan, tidak usah ditangani. Kalau jatuh sakit baru ditangani,” katanya, Senin (6/7/2020)..

”Kemudian yang OTG tinggal sampai kapan kuatnya. Padahal penyakit menular dan tidak menular masih berkeliaran juga disini. Akibatnya yang muncul adalah pageblug seperti yang pernah terjadi di Jawa, termasuk Semarang pada tahun 1918-1919,” ungkapnya.

Ia menilai kalau kegiatan protokol kesehatan bisa dipatuhi, oleh 80 persen masyarakat Jepara dalam kurun waktu dua pekan saja, kemungkinan kebutuhan biaya masih bisa terkejar.

Tapi bila masyarakat yg patuh hanya 20persen, penularan akan jalan terus dan berarti pasien positif akan meningkat. Akibatnya biaya kesehatan naik, kebutuhan APD RS juga naik. Anggaran karantina naik, masyarakat terdampak naik dan berkonsekuensi pada anggaran jaring pengaman sosial juga akan mengikuti.

Sepengetahuan dirinya, untuk kebutuhan Alat Pelindung Diri (APD) di RSUD Kartini dalam sebulan mencapai Rp 4 miliar. Sehingga lebih baik, dilakukan kegiatan 3T dan sekaligus penerapan protokol kesehatan secara ketat di masyarakat.

Hanya, untuk mengubah perilaku masyarakat ia mengakui memang susah. Apalagi pada masa darurat ini, perubahan perilaku harus cepat dilakukan. Dengan teori persuasif hal ini tidak mungkin terkejar. Dalam hal ini orang harus mampu dan mau.

”Menurut teori 10-20 persen orang cenderung menolak kebiasaan baru. Maka trilogy-nya ki Hajar Dewantoro perlu diterapkan. Ing ngarso sung tulada, karena kita berbudaya paternalistik, maka tokoh formal harus memberi contoh dalam penerapan protokol kesehatan dulu,” jelasnya.

”Setelah itu, baru dibarengi Ing Madya Mangun Karso atau memotivasi. Dan hanya ada dua cara, yaitu ganjaran dan hukuman. Jadi tidak dapat tidak, untuk memberantas covid perlu hukuman bagi yang tidak mau memakai masker, tidak mau jaga jarak, yang membuat kerumunan,” tegas dr Nurkukuh.

 

Reporter: Budi Erje
Editor: Supriyadi

Comments
Loading...