Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Cerita Omah Kapal Kudus, Terinspirasi Perjalanan Haji dan Kini Tertutup Rumput Liar

MURIANEWS, Kudus – Rumah Kapal atau yang dikenal dengan Omah Kapal Kudus, kini kondisinya tak terawat. Rerumputan liar menutupi rumah itu, hingga bangunanya nyaris tak nampak lagi.

Omah Kapal ini pernah jaya mada masanya. Dan menjadi penanda perjalanan ibadah suci sang pemilik rumah.

Rumah yang dibangun dengan desain menyerupai sebuah kapal tersebut berdiri di atas lahan seluas 8.500 meter persegi. Di sisi kirinya nampak gambar jangkar kapal yang tertutup rerumputan liar.

Kini kondisi rumah kapal tak seperti dulu. Hanya tinggal 30 persen bangunan yang tersisa, dan hanya bangunan dasarnya saja yang masih kokoh berdiri.

Bangunan bagian atas sudah rusak bahkan tinggal kerangka yang tertutup rerumputan liar.

Menurut Muhammad Bismark Muzahid (53), ahli waris dan pemilik Rumah Kapal generasi ketiga itu menceritakan bahwa rumah tersebut dibangun pada tahun 1934 oleh kakeknya yang bernama Muzahid.

Bangunan tersebut dibuat kakeknya setelah melaksanakan ibadah haji. Waktu itu, ke Tanah Suci masih menggunakan kapal.

“Waktu itu kakek saya sudah pergi haji dua kali, jadi kakek terinspirasi dari kapal yang dipakai pergi haji. Agar bisa mengenangnya dibuatlah Omah Kapal itu,” katanya Rabu, (16/6/2020).

Menurut cerita almarhum ayahnya Abdullah Muzahid, setelah dibangun, rumah tersebut digunaman untuk tempat liburan keluarga.

“Dari cerita ayah saya setiap malam Jumat atau hari Jumat dulu selalu dibuat tempat kumpul keluarga,” ujar pria yang akrab di sapa Mamak tersebut.

Saat itu kakeknya adalah salah satu pengusaha rokok kretek di Kudus.

“Nama merk rokoknya apa saya kurang tahu, pokoknya yang ada gambar kemudi kapal di bungkusnya,” terangnya.

Kakeknya meninggal sekitar tahun 1950an, waktu itu ayahnya masih berumur tujuh tahun.

“Harusnya ayah saya punya saudara namun meninggal, berselang usia pernikahan kakek dan nenek saya 25 tahun baru dikarunai putra lagi. Yakni ayah saya Abdullah Muzahid,” ujarnya.

Sepeninggal kakeknya, bangunan itu sudah mulai tidak pernah terawat dan jarang ditempati. Karena pada saat kakeknya meninggal usia ayah Mamak masih kecil dan kurang paham cara merawat bangunan tersebut.

Baca: Pemilik Omah Kapal Kudus Minta Status Cagar Budaya Dicabut

Di tahun 2003, lanjut Mamak, ia menggunakan halaman depan Omah Kapal untuk usaha pabrik kayu. Namun, usaha tersebut terpaksa ditutup tahun 2016 lalu.

“Kemarin juga saya buat parkiran bus, mobil, motor untuk wisata Menara jika di terminal sudah penuh dan membeludak. Dari pada tidak terpakai saya buat parkiran daripada tidak digunakan sama sekali,” terangnya.

Ia mengakui jika rumah itu memang sudah lama tidak terawat dan kondisinya kini pun tertutup rerumputan liar. Selain itu, ia mengaku juga tak pernah dititipi pesan oleh ayahnya terkait penetapan cagar budaya di Rumah Kapal.

“Memang saya tidak ada pesan dari ayah terkait itu. Selama ini pemerintah juga tidak ada perawatan dan kontribusi di rumah kapal. PBB juga saya yang bayar,” jelasnya.

Saat ini, ia belum punya rencana untuk ke depannya akan menjadikan apa lahan seluas 8.500 meter persegi itu yang di atasnya masih berdiri Rumah Kapal meski tinggal beberapa persen yang utuh.

 

Reporter: Yuda Auliya Rahman
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...