Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Blora Mulai Siapkan New Normal, Bupati Belum Izinkan Hiburan Seni Budaya

MURIANEWS, Blora – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Blora menggelar rapat evaluasi penanganan Covid-19 menuju tatanan hidup baru atau new normal yang dipimpin langsung oleh Bupati Djoko Nugroho, Rabu (10/6/2020).

Rapat dihadiri jajaran forkopimda, para asisten, staf khusus dan staf ahli bupati, kepala organisasi perangkat daerah (OPD), camat dan stakeholder terkait seperti Kemenag, pelaku industri perhotelan, serta para pengusaha.

Dalam rapat tersebut, Djoko mempersilahkan masing-masing OPD atau dinas teknis agar mulai menyusun teknis pelaksanaan tatanan kenormalan baru, sesuai bidangnya. Teknisnya harus disesuaikan dengan aturan protokol kesehatan agar tetap bisa produktif tanpa harus tertular Covid-19.

“Saya rasa Blora ini sudah bisa dikenali darimana saja sumber Covid-19. Dari 35 ribu lebih pemudik yang datang di Blora bisa dikatakan semuanya sehat. Yang menyebabkan Covid-19 justru dari klaster Temboro dan Perumda,” katanya.

Menurut dia, penyebaran dari dua klaster itu di Blora saat ini sudah bisa dikendalikan, sehingga pihaknya mulai menyiapkan konsep kenormalan baru.

”Dalam artian penularannya (dari klaster Temboro dan Perumda) sudah terhenti. Sehingga saya putuskan untuk pelan-pelan mulai menyusun konsep new normal,” jelasnya.

Menurut Djoko, masa transisi menuju new normal ini sudah dimulai dengan masuknya kembali seluruh ASN di Kabupaten Blora.

“Selanjutnya saya minta agar tempat ibadah baik masjid maupun gereja, dan tempat ibadah lainnya bisa segera dibuka dengan mematuhi protokol kesehatan. Atur jarak ketika beribadah, misalnya saat salat, imam tidak usah meminta untuk merapatkan barisan, melainkan mengatur jaraknya. Saat ini keselamatan menjadi yang utama, karena new normal bukan berarti Covid-19 selesai,” lanjutnya.

Untuk sektor pendidikan, Djoko meminta Dinas Pendidikan melakukan evaluasi dan menyusun teknis penyelenggaraan sekolah jika memang memungkinkan mulai masuk. Namun menurut dia, untuk saat ini anak sekolah sebaiknya jangan masuk dahulu.

“Begitu juga dengan hiburan pesta pernikahan, seperti dangdut, musik, dan pertunjukan seni budaya lainnya. Jangan diizinkan dulu. Kita lihat perkembangan terlebih dahulu karena mengaturnya ini susah. Memang banyak seniman yang nganggur, namun saya belum berani memutuskan untuk iya. Kita tunggu bulan depan saja,” tegasnya.

Kalau sektor pariwisata, Djoko membolehkan untuk dibuka, namun yang sifatnya individu, bukan wisata rombongan.

Pihak Dinporabudpar diminta untuk mengumpulkan pengelola pariwisata terlebih dahulu guna menentukan mana-mana saja yang boleh dibuka dan mana yang belum.

Tetapi untuk bidang olahraga, Djoko mengizinkan agar tempat-tempat olahraga kembali dibuka namun juga dengan mematuhi protokol kesehatan.

“Saat seperti ini olahraga justru penting untuk menjaga kesehatan. Silahkan GOR dibuka, tenis juga bisa. Asalkan jangan sampai menggelar even atau turnamen olahraga yang menimbulkan banyak kerumunan, belum boleh itu,” terangnya.

Lalu tentang aktivitas ekonomi baik di pasar tradisional maupun pasar hewan, menurut Djoko harus mulai dibuka dengan tetap melaksanakan protokol kesehatan. Seperti wajib pakai masker, jaga jarak dan disediakan tempat cuci tangan pakai sabun.

“Kemarin memang pasar hewan yang ada di Pasar Pon Blora dan Pasar Pahingan Randublatung kami tutup karena ada kekhawatiran menjadi tempat persebaran virus mengingat banyak pedagang hewan yang berasal dari luar kota. Namun saat ini kami minta Dindagkop UKM untuk mempersiapkan pembukaannya kembali, juga dengan menerapkan protokol kesehatan, wajib ini,” pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Dinporabudpar Blora Slamet Pamudji menyampaikan, pihaknya telah banyak mendapat masukan dari para seniman agar diupayakan bisa kembali pentas.

Namun, pihaknya belum berani memastikan kapan boleh pentasnya karena kondisi pandemi Covid-19 di Blora belum selesai.

“Ini memang sulit. Apalagi mengatur pertunjukan seni budaya yang aksinya sering terjadi kontak fisik seperti ketoprak, barongan dan sebagainya. Kalaupun kita batasi, harus dibuatkan regulasi teknis yang jelas. Olahraga pun yang diperbolehkan baru olahraga yang sifatnya individu, dan untuk event olahraga belum boleh,” terang Slamet.

 

Reporter: Dani Agus
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...