Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Fosil Monyet, Gajah hingga Kuda Nil di Patiayam Kudus Jadi Benda Cagar Budaya

MURIANEWS, Kudus – Pemerintah menetapkan sebanyak 17 fosil koleksi Museum Purbakala Patiayam Kudus menjadi benda cagar budaya (BCB) tingkat kabupaten. Beberapa fosil yang ditetapkan menjadi BCB yakni fosil monyet, gajah hingga kuda nil.

Fosil-fosil itu merupakan temuan dari situs Patiayam di perbatasan Kudus-Pati. Penetapan ini dilakukan melalui Surat Keputusan Bupati Kudus Nomor 070/2117/10.00/2020 pada akhir April 2020 lalu.

“Sebelumnya ke-17 benda tersebut telah dikaji keasliannya dan diajukan oleh Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kabupaten Kudus di akhir November 2019 lalu,” kata Kasi Sejarah, Museum dan Keperbukalaan (Rahmuskala) Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kudus Lilik Ngesti, Jumat (29/5/2020).

Selain fosil monyet, gajah dan kuda nil, fosil lain yang ditetapkan sebagai BCB yakni fosil gajah, antelope, rusa, babi hutan, kucing besar, kerang laut, hingga fosil hiu purba.

“Masih ada jenis lain yang ditetapkan menjadi BCB peringkat kabupaten,” ujarnya.

Baca juga:

Menurut Lilik, saat ini ada 222 cagar budaya yang sudah tercatat dalam tahap registrasi pengajuan penetapan. Jumlah tersebut terdiri dari 148  cagar budaya yang bergerak, dan sisannya merupakan cagar budaya yang tidak bergerak.

“Sebelum penetapan kan ada beberapa proses, dari mulai registrasi, pengkajian, hingga penetapan. Dan juga ada kegiatan dan langkah-langkah di tiap proses tersebut,” terangnya.

Harapannya dengan ditetapkannya ke-17 fosil tersebut menjadi dampak positif serta pengenalan ke masyarakat baik di bidang pendidikan, sosial budaya, dan juga ekonomi.

“Dengan ditetapkannya 17 fosil tersebut menjadi aset pemerintah dan kekayaan warisan budaya yang harus dirawat dan dipelihara sesuai dengan Undang–Undang Cagar Budaya Nomor  11 Tahun 2010,” pungkasnya.

 

Reporter: Yuda Auliya Rahman
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...