Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Penjualan Bata di Kudus Tak Terpengaruh Wabah, Justru Pesanan Menumpuk

MURIANEWS, Kudus – Tren penjualan batu bata di Kabupaten Kudus tak terpengaruh dengan adanya wabah Covid-19. Walau demikian, sejumlah perajin cukup kesulitan mendapatkan bahan baku bata, yakni tanah.

Alasannya, adalah karena sejumlah daerah pemasok seperti daerah Mayong, Kabupaten Jepara tengah masuki musim tanam padi. Sehingga tanah di area persawahan tak bisa diambil untuk dijadikan bahan baku bata.

“Tanahnya yang mulai langka, penjualan masih aman malah harga cukup tinggi,” kata Soleh, salah satu pengusaha bata merah di Desa Pasuruhan Lor, Kecamatan Kaliwungu, Kudus, Rabu (29/4/2020).

Untuk harga jual bata merah per seribu biji, katanya kini mencapai Rp 720 ribu. Harga tersebut, lanjutnya, meningkat dibandingkan harga sebelumnya yang hanya berkisar Rp 650 ribu.

“Selain permintaan bata merah tengah meningkat, harga jualnya juga cukup tinggi,” lanjutnya.

Walau demikian, naiknya harga pasaran batu bata merah juga dikarenakan harga jual tanah untuk bahan pembuatan bata merah juga melonjak menjadi Rp 300.000 per truk. sedangkan sebelumnya hanya berkisar Rp 220.000 per truk.

“Harga sekam juga naik menjadi Rp 1,1 juta per truk, dari sebelumnya tidak sampai Rp 1 jutaan,” katanya.

Meskipun demikian, lanjut dia, pengusaha bata merah tengah bersemangat memproduksi. Karena stok selalu habis dibeli, bahkan banyak yang memesan.

Hal yang sama juga dikatakan Arif, pembuat bata merah di Desa Pasuruan Lor. Ia juga mengaku kalau bata merah yang belum dibakar bahkan sudah ada yang memesan.

Ia mengatakan, berapapun stok bata merah yang tersedia, langsung habis karena permintaan memang sedang tinggi.

“Ini memang musim orang membangun rumah. Sehingga banyak pesanan yang berdatangan dari berbagai daerah,” terangnya.

Pihaknya pun mengakui jika cukup terkendala dengan ketersediaan bahan baku. Sedangkan untuk cuaca, Arif mengatakan cukup mendukung untuk penjemuran bata yang baru dicetak, meskipun beberapa kali turun hujan.

“Kalau cuaa sampai saat ini memang masih aman, bahan bakunya yang kadang kami kesulitan,” lanjutnya.

Jika sebelumnya proses pengeringan batu merah membutuhkan waktu hingga sepekan, untuk saat ini cukup tiga hari bisa kering. Sehingga proses cetak bata merah bisa berlangsung secara berkelanjutan.

“Lumayan cepat walau memang terkadang tiba tiba mendung dan hujan,” pungkasnya.

 

Reporter: Anggara Jiwandhana
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...