Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Dari Larisnya Getuk Tengu, Gadis di Kudus Ini Tak Lagi Galau karena Nganggur

MURIANEWS, Kudus – Getuk goreng adalah makanan khas yang terbuat dari ketela dan banyak dijumpai di sejumlah daerah. Ragam dari getuk ini juga berbeda-beda di setiap daerahnya.

Di Kudus misalnya, sudah terkenal dengan getuk nyimut di Desa Kajar, Kecamatan Dawe. Namun selain getuk nyimut, ada ragam olahan getuk yang lain di Kota Kretek ini.

Namanya getuk tengu. Meski pakai nama “tengu”, getuk ini tak ada hubungannya dengan hewan kecil yang bikin gatal kulit tersebut.

Kata ‘tengu’ merupakan kependekan dari ketela ungu, yang menjadi bahan dasar getuk ini. Getuk tengu ini merupakan hasil dari home industri di Desa Menawan, Kecamatan Gebog, Kudus.

Getuk goreng tengu ini menjadi andalan home industri yang dirintis oleh gadis cantik bernama Kurniawati Rohmah (24).

Getuk tengu bikinan Nia yang terbuat dari ketela ungu. (MURIANEWS/Yuda Auliya Rahman)

Nia begitu ia akrab disapa, menyatakan, usaha getuk tengu tersebut awalnya cuma iseng. Karena hobinya masak ia pun sering membuat olahan jajanan sendiri di rumah kemudian setelah jadi ia unggah di media sosial.

“Pas saya buat status getuk tengu itu, banyak yang tanya dijual apa tidak baru kemudian saya berpikiran untuk menjualnya,” katanya.

Awalnya ia hanya menyanggupi beberapa orang yang order, dan belum berpikir untuk produksi yang lebih banyak. Karena pesanan awal hanya dari dua orang masing-masing 10 biji.

Dan siapa sangka, respon dari pembeli cukup menggembirakan. Bahkan ia mulai kebanjiran pesanan.

”Dari situ saya berpikir, oh ini peluang usaha saya dan kebetulan waktu itu saya baru selesai kontrak dari perusahaan. Jadi kira-kira sudah empat bulan menganggur,” jelasnya.

Ia mengatakan untuk harganya pun cukup terjangkau hanya dengan Rp 12 ribu dapat menikmati satu porsi getuk tengu. Untuk rasan ada lima varian seperti cokelat, keju, original, gula aren, dan gula pasir.

Saat ini usahannya baru berjalan sekitar enam bulan dan sudah mempunyai dua orang karyawan, sedangkan untuk omzetnya bisa mencapai Rp 800 ribu per hari.

“Tapi itu sebelum adanya wabah corona, selama corona ini ya berkurang,” ucapnya.

Untuk pemasarannya, awalnya ia berencana hanya melayani pesan online dengan sistem cash on delivery (COD) yang bisa dipesan lewat akun Instagram @gethuk.tengukudus atau bisa by WhatsApp.

Namun, karena ada juga yang meminta makan di lokasi, ia pun memutuskan untuk melayani di rumah. “Tapi dengan tempat seadanya, sementara hanya ada teras rumah. Ya semoga bisa buat mini cafe,” ujarnya.

Ia juga berpesan untuk generasi muda khususnya di Kudus agar jangan takut gagal dalam memulai usaha.”Jangan takut gagal, gagal mulai lagi. Lakukan yang menurutmu itu passionmu,” tandasnya.

 

Reporter: Yuda Auliya Rahman
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...