Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

PKL Sekitar Alun-Alun Kudus Minta Kebijakan Jam Malam Dimulai Pukul 21.00 WIB

MURIANEWS, Kudus – Pedagang Kaki Lima (PKL) di seputaran area pemberlakuan jam malam di Kabupaten Kudus mengeluhkan sedikitnya jam operasional mereka saat ini. Sehingga sangat berdampak pada penghasilan mereka.

Imam, pedagang martabak yang berjualan di Alun-Alun Simpang Tujuh Kudus juga mengharapkan adanya evaluasi jam malam di kawasan alun-alun.

Jika diperbolehkan, pihaknya mengusulkan jika jam malam baru dilaksanakan pukul 21.00 WIB.

“Kalau jam delapan malam biasanya baru banyak pesenan. Ini kami setengah delapan saja sudah menolak order,” katanya, Senin (20/4/2020).

Hal tersebut, akhirnya berimbas pada pada pemasukannya. Jika sebelumnya bisa mendapatkan pemasukan antara Rp 400 ribu hingga Rp 500 ribu semalam, sejak diberlakukan pembatasan jam malam turun antara Rp 150 ribu hingga Rp 200 ribu semalamnya.

Imam pun berharap ada solusi agar PKL tetap ada kesempatan berjualan. “Untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga, kami hanya bisa berjualan di tepi jalan,” ujarnya.

Hal senada juga diutarakan Anton, salah satu pedagang angkringan di Jalan Sunan Kudus. Ia mengharapkan adanya evaluasi terkait pemberlakuan jam malam di Kudus.

Pasalnya, saat ini pihaknya mengaku hanya bisa menggelar lapaknya selama dua jam saja, sejak kebijakan jam malam diberlakukan.

“Padahal biasanya saya sampai jam tiga pagi. Kini jam delapan sudah rampung bersih-bersih,” ucapnya Minggu (19/4/2020) malam.

Baca: Jam Malam di Kudus, Sepi Tak Ada yang Berani Langgar

Pendeknya jam berdagangnya pun berdampak pada penghasilan yang diterima Anton tiap malamnya.

Jika biasanya dia bisa menerima penghasilan sebesar Rp 300 ribu, kini pihaknya hanya bisa menghasilkan kurang lebih Rp 50 ribu saja. “Tentu berkurang, jamnya sangat pendek,” ucapnya.

Nasi bungkus yang disediakan, katanya, juga sudah dikurangi dari semula 130 bungkus, kini hanya menjadi 40 bungkus. Jumlah tersebut saja, akunya, masih sisa.

“Saya justru lebih senang dengan kebijakan sebelumnya. Pembeli dilarang makan di tempat, melainkan makanannya harus dibawa pulang,” katanya.

Walau demikian, pihaknya tetap mendukung kebijakan yang diterapkan oleh Pemkab Kudus. Namun, yang perlu digaris bawahi adalah solusi dari kebijakan tersebut bagi para PKL yang terdampak.

“Jadi ada kebijakan, ada solusi, misal pembatasannya baru dilaksanakan jam sembilan malam,” pungkasnya.

 

Reporter: Anggara Jiwandhana
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...