Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

OPINI

Berbudaya Berarti Siap Berbeda

0 69
Moh Rosyid *)

PADA tataran lazim hal yang berbeda atau tak biasa/tak terbiasa atas tradisi di sebuah wilayah menjadi asing bahkan dianggap aneh oleh pihak tertentu. Bila tak memiliki kesadaran bahwa perbedaan budaya adalah kehendak Ilahi (Tuhan, Gusti, Moho Kuwaos) maka berperilaku tak bijaksana pada pihak lain, tapi hanya ‘bijaksini’ penanda tak dewasa.

Peta pergulatan muslim yang keukeuh nguri-uri tradisi adiluhung pun, bila berhadapan dengan umat yang tak peka budaya maka tradisi dan peribadatannya pun diklaim sesat, klenik, dan pemuja setan. Anehnya, si penuduh tak memahami bahwa ritual sebagian warga yang tertuduh bermuatan Islam.

Sebagaimana tatacara upacara mengawali panen padi (adat wiwit pari) dengan sesajian berupa nasi, ayam kampung, sayur, krupuk, tahu-tempe, ikan teri, peyek, jajan pasar, telur, dan pisang (simbol penuh makna) dibawa ke sawah. Lalu memotong padi sedikit untuk menyatakan padi siap dipanen untuk berdoa dengan bahasa lokalnya (bahasa apa pun milik Tuhan. Tuhan memahami tiap bahasa hamba) bersimpuh pada-Nya.

Persoalannya, harus ada “jembatan penghubung” antara pengklaim dengan yang diklaim agar tuduhan tidak ‘bijaksini’ tapi bijksana. Berikut ini contoh riil doa wiwit padi bernuansa Islam.

Assalamualikum wr.wb, salam, mbok sri, siro tak boyong muleh tak panggonno gedong dunak demek (mbok Sri/lambang padi, kamu tak bawa pulang ditempatkan di lumbung padi). Sak rampunge tak pek wit witan yen ono sing dipangan manuk yo dadi sodakohku (setelah padi saya panen, bila ada yang dimakan burung menjadi sedekahku), yen ono bongso lembut nglangkahi bundelanku entuk sapu dendane (bila ada makhluk gaib melangkahi padi mendapat denda).

Lalu membaca Allahhu Allah tiga kali. Lalu berdoa: Duh Gusti kang maha murah, muga mbok sri sing tak go bali berkah tumerap awakku, keluargaku (Ya Tuhan Yang Maha Murah, semoga padi yang saya panen berkah bagiku dan keluargaku), lan mugoho biso dadekna kekuatanku bekti marang Gusti kang maha welas asih (dan semoga bisa menjadikan kekuatan untuk berbakti pad-Mu Yang Maha Pengasih), Alfatihah (membaca surat al-Fatihah).

 

Memaknai Simbol

Ragam sesajian (sajen) bukan berarti menduakan Gusti/Tuhan, tapi simbol penyatuan manusia dengan alam. Sebaiknya apa yang kita lakukan?. Menyadari bahwa manusia apa pun agama dan etnisnya, memiliki mutiara dan memiliki sampah pada dirinya, ketidaksempurnaan adalah khas potensi tiap anak Adam.

Merasa paling benar sebagai wujud kesombongan, bagi si sombong mudah diadu domba oleh setan, tujuannya agar konflik. Tak lagi eranya merasa paling hebat, tapi menghormati sesama hamba Tuhan yang hanya sementara menghuni alam dunia ini.

Dengan memahami fakta tersebut, seyogianya jangan mudah mengklaim bahwa yang berbeda berarti salah, perbedaan adalah kodrat Ilahi, bermanfaat untuk kehidupan. Purifikasi (gerakan memurnikan ajaran Islam) tak sama dengan ‘ngawurisasi’ menuding pihak lain yang berbeda.

Kedewasaan menerima perbedaan dilandasi prinsip sak apik-apike wong (sebaik-baiknya orang), ana ele-e (ada jeleknya), sak elek-elek-e wong (sejelek-jeleknya orang), ana apie (ada baiknya), iku lumrah (itu lazim), wahai sedulurku. Nuwun. (*)

 

*) Penulis adalah penikmat budaya, dosen IAIN Kudus

Ucapan Idul Fitri 1441 H Banner Bawah PC

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.