Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Kisah Ngenes Tukang Ojek Colo: Biasanya Sehari Kantongi Rp 700 Ribu Kini Nol Rupiah

Ucapan Pelantikan Bupati Jepara Pemkab PC
0 10.099
Ucapan Pelantikan Bupati Kodim Jepara PC

MURIANEWS, Kudus – Colo, merupakan salah satu desa yang sangat sibuk di Kabupaten Kudus. Tiap hari, ribuan orang berlalu-lalang di desa ini. Entah pagi, siang bahkan hingga tengah malam sekalipun.

Sebagian besar mereka adalah para peziarah. Datangnya dari berbagai penjuru Jawa. Tujuannya nyekar atau berziarah ke makam Sunan Muria yang lokasinya ada di Gunung Muria ini.

Pada hari libur, desa yang ada di Kecamatan Dawe tersebut tambah padat. Banyak muda-mudi yang menyesaki tempat wisata di kawasan itu. Air Terjun Monthel yang paling jadi favorit. Ada juga Sumber Air Tiga Rasa yang juga jadi jujukan.

Jalan-jalan di desa ini selalu padat. Oleh pejalan kaki, dan lalu lalang tukang ojek yang mengantarkan peziarah atau wisatawan.

Apalagi jelang Ramadan, kawasan Desa Wisata Colo ini begitu padatnya oleh para peziarah pencari berkah. Perekonomian desa itu pun berputar kecang. Warung kecil, pedagang makanan, hingga kerajinan khas Kudus laris.

Tak ketinggalan, para tukang ojek yang selalu mendapat rezeki berlimpah dari kehadiran para peziarah.

Namun ini adalah cerita sebulan lalu. Atau setidaknya jelang Ramadan tahun lalu. Kini suasana Colo berubah drastis. Menjadi desa yang sangat sepi, dan lengang.

Saat MURIANEWS bertandang ke desa ini, Rabu (8/4/2020) siang, suasana yang tak pernah terjadi selama beberapa tahun terakhir pun terlihat. Jalanan sepi, terminal kosong, tempat mangkal ojek tak ada satu orang pun terlihat.

Pengumuman penutupan objek wisata di Colo terpampang di gerbang masuk Desa Colo. (MURIANEWS/Yuda Auliya Rahman)

Toko-toko di pinggir jalan hingga sampai ke makam Sunan Muria tutup. Hanya satu dua toko yang terlihat buka, itu pun tak ada pembeli.

Memang tempat wisata di Colo ini secara resmi telah ditutup pada Rabu (18/3/2020) lalu, dan disusul penenutupan Makam Sunan Muria untuk peziarah pada Jumat (27/3/2020).

Dan yang paling terkena imbas dari kondisi ini adalah para tukang ojek. Mereka kini tak bisa bekerja sama sekali, sehingga banyak di antaranya yang sementara harus nganggur atau bekerja ke tempat lain sembari menunggu kondisi membaik.

Seperti yang dialami Asep (38) salah satu tukang ojek Colo. Ia kini pun lebih memilih merawat kambing-kambingnya. Karena ketika mau ngojek pun, tak ada penumpang.

Ia mengaku sudah sepuluh tahun terakhir menjadi tukang ojek di Colo. Selama bekerja menggeber motor ini, ia mendapat pemasukan yang cukup lumayan.

Biasanya saat menjelang puasa ia bisa mendapat Rp 600 ribu hingga Rp 700 ribu tiap harinya. Namun kini, sama sekali tidak ada pemasukan dari ngojek, alias nol rupiah.

”Sejak mewabahnya corona ini ojek Colo sepi. Apalagi setelah makam Sunan Muria ditutup sama sekali tidak ada pemasukan,” katanya, Rabu (8/4/2020)

Ia menyebut, anggota paguyuban tukang ojek Colo berjumlah 400 orang. Mereka bekerja dengan cara bergantian, pagi dan malam. Untuk jatah pagi ada 250 orang, dan malam 150 tukang ojek.

”Meskipun ngojeknya libur, tapi bayar kas anggota tetap jalan. Tiap bulan bayar Rp 15 ribu,” akunya.

Baca: Sejumlah Objek Wisata Kudus Ditutup, Cegah Sebaran Corona 

Pria yang tinggal di Desa Colo ini mengaku, sekarang lebih memilih ngopeni kambing-kambingnya.

”Sekarang tiap hari saya mencari rumput untuk makan hewan ternak saya, kemudian ya merawatnya di rumah” ujarnya.

Dia sekarang mempunyai sembilan ekor kambing di rumahnya. Jika suatu saat butuh uang, dia bisa jual kambingnya.

Beda lain ceritanya dengan Joko (40). Salah satu tukang ojek di Colo ini hanya bisa menganggur sembari menunggu kondisi membaik.

”Sementara pakai uang tabungan dulu. Wabahnya juga datang tiba-tiba, jadi ya tidak ada persiapan,” terangnya.

Ia juga mengaku menyayangkan kondisi ini. Pasalnya, jika kondisi normal ia bisa mendapat penghasilan ratusan ribu setiap harinya dari mengojek.

”Kalau ramai lebih dari Rp 700 ribu. Tapi sekarang tidak bisa mendapatkan serupiah pun,” keluhnya.

 

Reporter: Yuda Auliya Rahman
Editor: Ali Muntoha

Ucapan Pelantikan Bupati Jepara Banner PC

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.