Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

OPINI

Mewacanakan Pentingnya Museum Toleransi di Kudus

0 133
Moh Rosyid *)

KESADARAN membangun Museum Internasional tentang Sejarah Nabi SAW dan Peradaban Islam diwujudkan di atas lahan seluas enam hektare di Pantai Timur Ancol Jakarta yang groundbreaking-nya (peletakan batu perdana) Rabu 26 Februari 2020 oleh Menteri BUMN Erick Thohir.

Harapannya, museum difungsikan untuk mempelajari sejarah dan Islamisasi. Upaya ini didukung oleh Yayasan Wakaf Assalam Jeddah (Arab Saudi) dan Liga Muslim Dunia yang bermarkas di Makkah. Museum dua lantai akan memuat ruang pameran benda bersejarah Nabi Muhammad SAW dan peradaban Islam, auditorium, masjid, dan lapangan untuk kegiatan keagamaan.

Museum serupa telah ada di Makkah yakni As Salamualaika Ayyuhan Nabi dan Museum Syirah Nabawiyah di Madinah. Bagaimana bila ada Museum Toleransi di Kota Kudus?.

Adanya peninggalan Sunan Kudus antara lain Keris Cintoko, Tumbak Kembar, tasbih, kursi, dan lainnya. Begitu pula peninggalan Sunan Muria berupa cekatak (pelana kuda) dan tokoh lokal lain seperti Rogomoyo di Dukuh Prokowinong, Desa/Kecamatan Kaliwungu, Kudus, berupa rumah joglo, kitab kuno (hingga kini belum dapat dipahami maknanya karena belum ada penerjemah), alat pertukangan kayu (siku, dll) perlu dirawat di museum khusus. Belum lagi peninggalan benda pusaka kadang penghayat dan umat non-Islam. Hal ini terwujud bila Pemda Kudus peduli.

 

Pijakan Pendirian Museum

Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 66 Tahun 2015 tentang Museum Pasal 1 (1) museum merupakan lembaga yang berfungsi melindungi, mengembangkan, memanfaatkan koleksi, dan mengomunikasikannya kepada publik, (3) koleksi museum berupa benda cagar budaya, bangunan cagar budaya, dan/atau struktur cagar budaya (CB) atau bukan CB sebagai bukti material hasil budaya dan/atau material alam dan lingkungannya yang bernilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, kebudayaan, teknologi, dan/atau pariwisata.

Kemudian pasal 3 (2) pendirian museum persyaratan yang dimiliki berupa visi dan misi, koleksi, lokasi/bangunan, sumber daya manusia, sumber pendanaan tetap, dan nama museum. Jenisnya terdiri museum umum dan khusus. Pasal 4 dan 6, pengelolanya oleh pemerintah, pemda, perorangan, masyarakat hukum adat. Di Kudus sedang dirintis museum perseorangan yang mengenalkan prosesi produksi jenang kudus.

 

Museum Toleransi?

Kota Kretek melekat pada Kudus diperkokoh adanya Museum Kretek di Desa Getaspejaten, Kecamatan Jati. Museum didirikan 3 Oktobet 1986 melalui prakarsa Gubernur Jateng Soepardjo Roestam. Ada pula temuan fosil/makhluk purba sejak 1931 oleh Van Es dari Belanda, kini warga pun menemukan secara alami.  Pemda Kudus mendidirikan Museum Purbakala Patiayam di Desa Terban, Kecamatan Jekulo. Kedua museum di bawah naungan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kudus.

Kudus pun memiliki kekhasan lain, ada umat enam agama, penghayat kepercayaan, dan pemeluk agama lokal (agama Adam bagi wong Samin/Sedulur Sikep). Bila dirunut, boleh jadi, umat Hindu sebagai umat yang ada di Kudus pra-Islam.

Apa buktinya?. Temuan arca di Desa Bacin tahun 1990-an (kini disimpan di Museum Ronggowarsito Semarang) dan benda khas dibangunan kuno (candi) berupa lingga dan yoni di Langgar Bubrah (bangunan cagar budaya, dulunya diduga sebagai tempt ibadah).

Ada pula serupa kori, pintu masuk pure, kini masih utuh di serambi dan di dalam bangunan utama Masjid Al-Aqsha Menara Kudus. Jejak masa lalu leluhur perlu didokumentasikan di museum seperti arca, keris, tombak, kitab, buku, dan lainnya. Tujuannya agar generasi kini dan mendatang mengenali jejak leluhurnya yang dulu akur, nirkonflik, meski beda akidah. Nuwun. (*)

 

*) Pemerhati Sejarah dan Budaya dari IAIN Kudus

Ucapan Idul Fitri 1441 H Banner Bawah PC

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.