Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

OPINI

Tahun Baru Umat Agama Baha’i, Apa Itu?

0 665
Moh Rosyid *)

PEMBACA mungkin merasa asing atau tak tahu bahwa ada umat agama Baha’i di negeri yang dititahkan Tuhan memiliki ragam agama ini. Agama Baha’i merupakan agama mandiri, tak menginduk pada satu agama, memiliki aturan tersendiri.

Tahun 1863 M dideklarasikan oleh Baha’ullah di Persia (Iran), dilanjutkan oleh Abdul Baha’, diteruskan Shogi Effendi (sang wali), lalu dipimpin oleh lembaga tingkat daerah, negara, dan dunia. Umatnya berdiaspora (menyebar) ke semua benua dan berbagai negara termasuk Indonesia sejak 1878 M hingga kini.

Lazimnya, publik familier nama enam agama, bahkan ada yang berpandangan salah (hanya enam yang berhak hidup di Indonesia).

Pasal 29 (2) Undang-Undang Dasar 1945 negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya masing-masing dan untuk beribadah menurut agama dan kepercayaannya itu. Ini diperkuat Undang-Undang  Nomor  1/PNPS/1965 yang memberi rambu, apa pun agamanya berhak hidup di Indonesia asal ajarannya tak bertentangan dengan perundangan.

 

Naw Ruz (Tahun Baru)

Jumat 20 Maret 2020 dalam Kalender Baha’i (Badi’, Baha’i Era) umat Baha’i di seantero jagad disyariatkan berpuasa sebulan (19 hari, 1-19 Maret) sebelum merayakan Tahun Baru (Hari Raya Naw-Ruz). Sebelum puasa, diawali Ayyami-Ha (Hari Sisipan) lima hari, yakni hari berderma pada keluarga dan tetangga.

Makam Baha’ullah dan Abdul Baha’ di kota Haifa, Israel. (Istimewa)

Naw Ruz diisi pujian atau doa pada Tuhan. Hakikat puasa adalah menahan diri dari semua hawa nafsu, masa bermeditasi, berdoa, pemulihan, perbaikan, pembaruan, dan memperkuat rohani dalam diri umat Baha’i. Setelah berakhirnya masa puasa, memasuki Hari Raya Naw-Ruz untuk saling bersalaman dan meminta maaf dengan sesama.

Pembeda Baha’i dengan agama-agama antara lain (1) mengakui kebenaran ajaran semua agama, (2) tak memiliki sosok/figur tapi dipimpin lembaga di daerah, ibu kota, dan berpusat di Kota Haifa Israel, (3) lembaga hanya menerima donasi dari umat Baha’i saja, (4) perkawinan boleh dengan seagama atau beda agama (bila beda agama, perkawinannya dilaksanakan dengam dua cara agama ).

Sebagai umat beragama (apa pun) memahami ajaran agamanya sebuah konsekuensi, memahami ajaran agama lain sebagai pengetahuan agar tidak menjadi fanatis. Perbedaan ras, suku, agama adalah kehendak Tuhan, mari berlomba untuk kemaslahatan kehidupan.

Al-Quran surat al-Haj: 17 “Sesungguhnya orang yang beriman, yang diberi petunjuk Gusti, umat agama Shobi’in, umat Nasrani dan Majusi, bahkan orang yang menduakan Tuhan (musyrik), keputusan Allah pada umat tersebut besok pada hari kiamat“.

Dengan demikian, tak bijaklah bila kita sebagai hamba menghakimi mereka (mengambil alih peran Tuhan?). Selamat Hari Raya Naurus, sobat. Nuwun. (*)

 

*) Penulis buku ‘Agama Baha’i dalam Lintasan Sejarah di Jawa Tengah’, dosen IAIN Kudus

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.