Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Keluhan Pelayanan Dispendukcapil di FB Viral, Perempuan Pati Ini Ngontel 35 Kilometer ke Kantor Kabupaten

MURIANEWS, Pati – Siti Nur Kayati (34) warga Desa Kalikalong, Kecamatan Tayu harus ngontel sejuah 35 kilometer dari kediamannya hingga ke kantor Bupati Pati untuk memenuhi nazarnya. Dia ingin menyampaikan keluhannya terkait carut-marut pelayanan di Dinas Kependudukan dan Pencatatan sipil (Dispendukcapil) Pati.

Semula, dia mengunggah kritik terkait pelayanan Dispendukcapil di grup Facebook (FB) Komunitas Anak Asli Pati (KAAP) pada tanggal 12 maret lalu. Dalam akun Fecebooknya, yakni Anggun Naveena, dia menulis Carut marut capilll…. Bikin KK,akta,KTP tumplek bleg ne capil, tempat tidak memadai. mbok iya o tempat buat KK KTP akta dipisah Jen gak jubel.ungkep engap…. Sungguh mengecewakan. Ga ene nyaman²e babar blas,apalagi yg bawa balita kasihan sekali.smoga ada perubahan.

Karena unggahan itu, dia pun bernazar, apabila tembus 2.000 like dan komentar, dia akan ngontel dari rumah ke Kabupaten Pati untuk menemui Bupati guna menyampaikan keluhan tersebut. Alhasil, komentar dan like di unggahan tersebut berhasil mencapai ribuan dan viral di media sosial.

Atas dasar itu, hari ini (17/3/2020), dia menepati nazarnya dengan berangkat dari rumah pukul 05.00 WIB. Sekitar pukul 09.00 WIB, ia diterima oleh Kepala Dispendukcapil Pati Rubiyono beserta jajarannya di Ruang Asisten 1 Sekda Pati.

Siti Nur Kayati sampai di Kantor Kabupaten Pati dan ditemui Kepala Disdukcapil Pati Rubiyono beserta jajarannya di Ruang Asisten 1 Sekda Pati.(MURIANEWS/Cholis Anwar)

“Saya pertanyakan fungsinya kantor kecamatan itu apa, kok semua harus ke Dukcapil. Karena membludak, tempatnya jadi tidak ramah anak. Saya juga kasihan sama petugas Capil, setiap hari harus melayani sebanyak itu,” katanya.

Menanggapi unek-unek Nur, Rubiyono juga berterima kasih. Ia menilai hal ini bisa jadi masukan bagi pihaknya untuk berbenah.

“Memang keadaan seperti itu. Daya tampung ruangan yang di dalam, yang ber-AC, cuma 160 orang. Sedangkan animo masyarakat sedemikian besar. Sehari yang datang bisa 500 sampai 600 orang,” ujarnya.

Melayani 23 produk administrasi kependudukan, lanjut Ruby, staf Dukcapil kerap bertugas melebihi jam kerja. Padahal pihaknya juga sudah membuka layanan online.

“Cuma, seperti tadi disampaikan Mbak Nur, mungkin tidak semua orang Pati punya android,” ucap dia.

Ruby mengakui, akibat kapasitas gedung yang tidak sebanding dengan jumlah masyarakat yang datang, kantor Dukcapil menjadi kurang ramah anak. Padahal, sebetulnya sudah ada tempat bermain anak dan ruang laktasi.

“Sehingga, kami sudah merencanakan, 2021 nanti pelayanan KTP dan KIA (Kartu Identitas Anak) bisa di kecamatan. Tidak bisa seketika diterapkan, karena perlu sarpras. Baru kami persiapkan,” tutupnya.

 

Reporter: Cholis Anwar
Editor: Supriyadi

Comments
Loading...