Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Sekuel Rananggana oleh Komunitas Seni Samar Pukau Penonton

0 58

MURIANEWS, Kudus – Komunitas Seni Samar yang kembali hadir dan menampilkan lanjutan cerita teater Bregada Merudhanda, Rananggana, sukses memukau penonton dalam pertunjukannya di Auditorium Universitas Muria Kudus (UMK), pada Jumat (12/3/2020) malam.

Sorak-sorai dan tepuk tangan dari para penonton pun tutup pementasan oleh penulis naskah Leo Katarsis dan disutradarai oleh Ramuna Putri Widyastuti tersebut. Misi pengangkatan moral pun dirasa bisa disisipkan secara apil dalam tiap adegannya.

Dalam pementasan dikisahkan seorang Rananggana sang pertapa khusyuk dari sanggar pamujan bersama keempat saudaranya. Dia mendapat titah Dewi Laras (Dewi Kebahagiaan), jika ingin menemukan taman swargaloka, maka dia harus senantiasa menjaga keempat saudaranya.

Dalam perjalanannya, waktu yang panjang membuat Rananggana mengalami kejenuhan. Laku datang dengan alap-alap penggod dan Rananggana mulai terganggu akan buah yang ditawarkan kedua alap-alap. Buah tersebut adalah kecubung wulung .

Konon, ketika seseorang memakan buah kecubung wulung, hidupnya akan lebih lama dan bahagia bagai di swargaloka.

Suatu ketika, lepaslah salah satu saudaranya dan disusul saudara yang satu lagi. Mereka berdua kemudian sibuk memperebutkan buah kecubung wulung yang ditinggalkan alap-alap. Rananggana menjadi ragu-ragu. Dilema antara ikut keluar mengambil kecubung wulung, atau tetap menjaga dua saudara lainnya yang masih terpekur di sanggar pamujan.

Ranaggana pun gelisah. Akhirnya, diambil juga buah kecubung wulung itu namun cepat-cepat ia kembali ke sanggar pamujan. Tiba-tiba muncul lagi buah kecubung wulung, bahkan lebih banyak.

Ranaggana kembali tergoda, dia ingin mengambil sebanyak-banyaknya agar hidupnya abadi dan senantiasa bahagia. Namun saudaranya yang satu bangkit. Dia merangsak liar, mengobrak-abrik sanggar pamujan. Lalu keluar memunguti buah kecubung wulung yang berserakan seperti sebelumnya.

Saudara terakhirnya pun mendadak hilang. Rananggana sudah tidak peduli, perhatiannya hanya tertuju pada buah itu. Di tengah dia mencicipi buah tersebut, saudaranya yang tinggal satu keluar, menari-nari menyenangkan diri.

Tak berapa lama, saudara-saudaranya yang lain (Yang sebelumnya dibawa alap-alap) datang kembali ikut menari-nari. Tanpa canggung, akhirnya Ranangganapun keluar menari bersama mereka.

Tanpa sadar, kedua alap-alap membawa jerat. Keempat saudara Rananggana menyingkir dan Rananggana digulung dengan tali jerat oleh kedua alap-alap lalu sekeras-kerasnya dibanting ke tanah. Kemudian ditinggalkan terkapar sendirian tak berdaya. Di tengah kesakitan yang dia rasakan, melintas ingatan Dewi Laras.

Dia sangat menyesal, dia telah gagal menjaga titah Sang Dewi. Dengan sisa-sisa tenaga yang dia miliki, Rananggana mencoba bangkit. Dia meratapi rumahnya yang porak poranda. Kemudian memanggil kembali saudara-saudaranya.

Memang benar keempat saudaranya kembali, namun telah menjelma menjadi “Buto”. Raksasa-raksasa dengan wajah mengerikan. Terjadi pertempuran hebat. Rananggana akhirnya berhasil menaklukkannya. Rananggana kemudian meruatnya agar keempat saudaranya kembali seperti sedia kala.

Public Relation Komunitas Seni Samar Eddy Susanto mengatakan, pementasan yang digawangi oleh berbagai elemen masyarakat tersebut bertujuan untuk menyadarkan pola pikir manusia. Terutama perilaku-perilaku yang hanya mengambil apa yang ada di alam, tapi tidak turut merawatnya.

“Inilah yang akan kami tekankan. Manusia tak hanya mengambil saja, namun juga mampu merawatnya,” katanya.

Selain itu, Rananggana juga mengisahkan secara tersirat tentang keseimbangan hawa dan nafsu manusia. Dalam filsuf jawa, kata Eddy, ada istilah sedulur papat dan lima pancer, empat hawa nafsu dan satu manusia itu sendiri.

“Empat hawa nafsu ini harus tetap dijaga agar seimbang, hendaknya kita hidup dengan keseimbangan. Kita harus sadar bahwa kita adalah bagian dari lingkungan masyarakat, yang tentu saja harus saling menjaga kerukunan dan kebersamaan,” terangnya.

 

Reporter: Anggara Jiwandhana
Editor: Ali Muntoha

Ucapan Idul Fitri 1441 H Banner Bawah PC

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.