Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Bubuk Abate Paling Tepat Digunakan di Kedung Malang Jepara, Ini Alasannya

MURIANEWS, Jepara – Wilayah Kedung Malang, Kedung, Jepara dan sekitarnya memang dikenal sebagai salah satu endemic DBD (Demam Berdarah Dengue). Lingkungan dan kondisi masyarakatnya memang membentuk sebuah potensi bagi berkembangnya DBD, terutama di musim hujan.

Kepala Puskesmas Kedung II Suhadi mengatakan, wilayah Kedung Malang dan sekitarnya selama ini memiliki masalah pada suplai air bersih. Hal ini membentuk kebiasaan masyarakatnya untuk selalu hemat dalam penggunaan air. Karena susah air, masyarakat bahkan kadang sangat sayang jika harus membuang air.

Sehingga kadang masyarakat memilih untuk menampung air yang dirasakan masih bisa untuk digunakan mencukupi kebutuhan air. Kebiasaan inilah yang akhirnya terkadang menjadi masalah, karena dari kebiasaan menampung air ini menimbulkan jentik-jentik nyamuk di tempat penampungan air mereka.

“Kami sudah mempelajari hal ini sejak lama. Memang seperti itulah kenyataannya. Karena itu dari apa yang kami pelajari di masyarakat, akhirnya kami bisa menetapkan cara apa yang tepat dalam usaha mencegah berkembangnya DBD di wilayah ini,” ujar Suhadi, Rabu (11/3/2020).

Akhirnya cara yang paling tepat dilakukan adalah lebih menitik beratkan penggunaan tablet Abate. Bubuk ini ditaburkan di air yang ada di wadah-wadah penampungan. Cara ini lebih tepat dibandingkan misalnya melakukan 3 M, yakni Menimbun, Menguras dan Menutup. Meski demikian langkah 3 M juga tetap dilakukan termasuk melakukan foging (penyemprotan).

Sekarang ini, masih menurut Suhadi, pihaknya juga terus melakukan kegiatan penyelidikan Edemiologi di wilayah Kedung Malang dan sekitarnya. Prakteknya dilakukan dengan melibatkan kader Jemantik (Juru Pemantau Jentik nyamuk). Dalam kegiatan ini akan dilakukan pemeriksaan masing-masing rumah warga di sekitar penderita DBD yang sudah ketahuan.

“Penyelidikan endemiologi DBD di lakukan di tiap 30 rumah di sebuah kawasan. Jika kondisi lingkungan sehat, maka maksimal hanya ditemukan jentik nyamuk di tiga rumah saja. Sebaliknya, jika dari 30 rumah ada lebih dari tiga rumah yang ditemukan terdapat jentik nyamuk maka lingkungan tersebut tidak sehat. Dari sini kemudian baru dirumuskan langkah apa yang harus diambil,” jelas Suhadi.

Dari kegiatan penyelidikan Endimiologi yang sudah dilakukan, sebanyak 3 desa dipastikan kondisinya masih belum sesuai harapan. Seharusnya, prosesntase yang didapatkan untuk kondisi lingkungan yang baik adalah 95 persen. Namun di Kedung Malang prosentasenya hanya 55 persen, Surodadi 70 persen, dan Karangaji 80 persen.

 

Reporter: Budi Erje
Editor: Supriyadi

Comments
Loading...