Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Sidang Kasus OTT Bupati Kudus

Jelaskan Rekonstruksi Pakai Denah, Tamzil: Saya Tidak di-OTT, Saya Diajak KPK

MURIANEWS, Semarang – Terdakwa kasus suap jual beli jabatan dan gratifikasi di lingkup Pemkab Kudus, Bupati Kudus (non aktif) HM Tamzil merekonstruksi peristiwa Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang dialami dirinya, Senin (9/3/2020) di Pengadilan Tipikor Semarang.

Untuk memberikan gambaran kepada majelis hakim, ia menjelaskan rekonstruksi tersebut menggunakan denah. Apalagi lokasi Pendapa Kabupaten dan Rumah Dinasnya terpahut lumayan jauh meski berada di satu kompleks.

Hanya, Tamzil enggan mengatakan peristiwa tersebut merupakan peristiwa OTT. Tamzil mengatakan jika dia hanya diajak KPK, bukan di OTT.  “Saya tidak di OTT, saya hanya diajak KPK,” katanya dalam persidangan.

Lebih rinci, Tamzil mengatakan jika saat peristiwa OTT Tamzil sedang bekerja dan menerima sejumlah tamu. Di antaranya Direktur RSUD Loekmono Hadi, Stafsus Agus Soeranto, dan beberapa orang dari salah satu media di Kudus.

“Saat itu yang pertama kali masuk Agus Soeranto, dia meminta izin tanda tangan untuk beberapa berkas kerja,” katanya.

Setelahnya, Agus kemudian membawa bingkisan uang suap milik Akhmad Shofian yang saat itu ditolak olehnya. Tamzil bahkan mengklaim kala itu, ia sudah mengusir Agus Soeranto dan mengucapkan jika dirinya takut dengan KPK.

“Saya bahkan bermimpi sudah didatangi KPK sebanyak tiga kali,” tambahnya di persidangan.

Baca Juga:

Setelah mengusir Agus Soeranto, lanjut Tamzil, ia pun mempersilahkan masuk jajaran RSUD Kudus untuk melakukan rapat. Baru setelah rapat rampung, ia memencet bel untuk menginstruksikan pada ajudan jika tamu setelahnya boleh masuk.

“Barulah saat itu saya dicegat KPK sambil ditanya mana uangnya,” katanya.

Usai bertanya, para penyidik KPK langsung memeriksa ruang kerjanya. Termasuk rumah dinas Tamzil juga digeledah. Meski begitu, ia yakin betul para penyidik tidak membawa apapun untuk dijadikan barang bukti.

“Setelah itu, saya dibawa ke rumah dinas Sekda yang ditempati oleh stafsus Agus Soeranto,” lanjutnya.

Di rumah Sekda itu, lanjut Tamzil, ia ditempatkan di ruang makan. Ia bahkan tidak mengetahui siapa saja yang diperiksa. Ia baru mengetahui, penyidik memeriksa stafsus M Tohirin saat Tohirin pergi ke kamar mandi.

“Saat itu saya mendengar ada beberapa orang yang diperiksa,” tambahnya.

Setelahnya, ia bersama Agus Soeranto dibawa ke Mapolda Jawa Tengah untuk diperiksa. Esok harinya, kemudian Tamzil diperiksa KPK dan ditetapkan sebagai tersangka. “Saya itu diajak. Bisa saja saya tidak mau, tapi saya menghormati hukum,” tekannya.

 

Reporter: Anggara Jiwandhana
Editor: Supriyadi

Comments
Loading...