Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Unik! Periksa Kesehatan di Kelurahan Buntalan Klaten Bayar Pakai Sampah

0 120

MURIANEWS, Klaten – Tak seperti layanan kesehatan yang biasanya, layanan kesehatan di Kelurahan Buntalan, Kecamatan Klaten Tengah, Kabupaten Klaten terbilang unik. Pasalnya, warga membayar pelayanan kesehatan menggunakan sampah. Hal ini membuat warga berbondong-bondong untuk memeriksakan kesehatan mereka.

Tina Farida Bidan Kelurahan Buntalan menjelaskan, pembayaran menggunakan sampah ini dilakukan setelah poliklinik kesehatan di Kelurahan Buntalan bekerja sama dengan Bank Sampah Tasaka. Selain untuk membangun kesadaran akan manfaat sampah, langkah ini juga untuk mengurangi sampah.

”Tujuan utama kami bukan pada berapa banyak sampah dikumpulkan. Kami ingin muncul kesadaran untuk mengelola sampah,” kata Tina Farida seperti dilansir Solopos.com.

Meski begitu, Tian Farida menegaskan, sampah yang digunakan untuk membayar biaya pengobatan memang bukan sampah biasa. Akan tetapi sampah yang memiliki nilai jual, seperti botol plastik bekas, kertas, hingga kaleng.

”Aksi ini sudah kami lakukan sejak 2016 silam. Sampai saat ini banyak warga yang memanfaatkan,” terang Tian Farida.

Sebelum booming, Tina Farida mengakui aksi yang dilakukannya semula untuk membantu mengatasi masalah sampah yang menjadi prioritas Forum Kesehatan Kelurahan (FKK) Buntalan, Kecamatan Klaten Tengah sejak 2013. Anggota FKK Buntalan lantas belajar ke bank sampah di wilayah Klaten untuk mengatasi masalah tersebut.

Selanjutnya, anggota FKK Buntalan mendirikan Bank Sampah Tasaka pada 2014. Sebagai salah satu pengelola Bank Sampah Tasaka, Tina Farida giat menyosialisasikan cara menabung sampah kepada warga, termasuk lewat posyandu yang awalnya tak membuahkan hasil.

“Kemudian dipikir-pikir saya menjadi bidan dan ada kegiatan Posyandu. Melalui Posyandu itu saya lantas mengajak dan mengedukasi warga agar mereka bisa tertarik dengan kepedulian sampah mereka,” tambah Tina Farida.

Sampah yang ditabung melalui kegiatan posyandu serta polindes itu dikumpulkan di bank sampah. Ketika sampah sudah menumpuk, pengelola Bank Sampah Tasaka menjualnya dan hasilnya dibagi ke para nasabah.

Petugas Administrasi Bank Sampah Tasaka, Marsiyam, mengatakan saat ini Bank Sampah Tasaka memiliki 132 nasabah. Selain dari peserta Posyandu, lembaga, serta warga di Buntalan, nasabah bank sampah juga berasal dari SMAN 1 Klaten.

”Sampah yang sudah menumpuk selama tiga bulan kami pilah dan kami keluarkan. Sebelum kami menjual, kami survei dulu harga dari satu pengepul agar bisa mendapatkan harga tinggi,” kata Marsiyam.

Sementara itu, Bambang Irawan (61) mengaku, sudah menyedekahkan sampah laik jual di rumah tangganya saban kegiatan posyandu digelar.

“Tentunya saya mendukung karena juga setiap hari di rumah ada sampah. Ketika sudah terkumpul daripada bingung dibuang kemana lebih baik saya sedekahkan di bank sampah melalui kegiatan posyandu,” kata warga Kampung Gemolong, Kelurahan Buntalan itu.

 

Penulis: Herda Vita Lesti
Editor: Supriyadi
Sumber: Solopos.com

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.