Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Kakek Sebatang Kara di Kudus Ini Bertahun-tahun Tinggal di Gubuk Reot Beratap Baliho Bekas

1 6.355

MURIANEWS, Kudus – Namanya Sundarji, seorang kakek yang hidup sebatang kara di gubuk reot di Desa Jepang Wetan, Kudus. Gubuk yang ditinggali kakek berusia 70 tahun itu pun didirikan di pekarangan milik tetangganya.

Rumah yang ditinggali Sundarji sangat memprihatinkan. Dindingnya terbuat dari bambu, dan atapnya hanya welid (anyaman daun kelapa) yang ditutupi dengan baliho bekas agar tak bocor.

Beralaskan tanah dan isi rumah ala kadarnya, pria tua ini harus menghabiskan masa tuanya di gubuk reot ini.

Tak ada listrik, hanya lilin yang menemani gelap malamnya. Beruntung, masih ada sumur milik warga yang dipinjamkan padanya untuk kebutuhan sehari-harinya.

Istri dan tiga anaknya juga sudah tiada. Hanya tinggal satu anaknya yang tersisa, walau kini tak tahu di mana.

Tak ada yang istimewa dari dalam rumahnya. Hanya tempat tidur dengan kasur tipis dan beberapa sarung sebagai alasnya.

Sundarji, kakek berusia 79 tahun tinggal di gubuk di Desa Jepang Wetan, Kudus sejak lima tahun terakhir. (MURIANEWS/Anggara Jiwandhana)

Perabot makan seadanya terlihat tertata di pojokan rumah bersama beberapa barang bantuan pemerintah.

Ketika didatangi MURIANEWS, Sabtu (22/2/2020), terlihat pendengaran Sundarji masih cukup peka di usia senjanya. Tangannya masih kuat untuk mengangkat beberapa barang yang lumayan berat.

Meski serba kekurangan, namun Mbah Sundarji mengaku tak mempermasalahkan dengan keadaan yang seperti ini. Ia tak mau menyerah dengan hidupnya yang serba kekurangan itu.

Sundarji Sendiri, sudah tinggal di gubuk tersebut sejak lima tahun lalu. Setelah rumah anaknya tidak bisa ditinggalinya lagi karena dijual usai anaknya meninggal.

“Saya tidak apa-apa, saya harus bersyukur dengan keadaan seperti ini,” ucapnya sembari tersenyum dengan raut muka bahagianya.

Ketika ditanya keinginannya, Sundarji menjawab tak ada yang diinginkan. Kesehariannya, dia hanya menunggu pesanan pembuatan tangga ataupun perabot rumah tangga lain berbahan dasar bambu. Dia juga sempat mengurus makam desa, namun sudah berhenti.

“Hidup saya syukuri, bagaimanapun juga ada yang lebih membutuhkan dan lebih prihatin, saya tidak apa-apa,” katanya disertai banyak tutur nasehat kehidupan.

Untuk makan, Sundarji  kadang mendapat bantuan dari warga dan tetangga setempat. Kadang pula, Sundarji memasak bahan makanan yang dia dapat dari pemerintah desa setempat.  Soal ini, dia punya prinsip supaya hidupnya tak banyak meminta.

Uwong urip kui kudu betah ngeleh lan ngantuk (orang hidup itu harus bisa menahan lapar dan mengantuk-red),” ucapnya.

Asam manis kehidupan terus dituturkannya saat MURIANEWS bertanya informasi seputar dirinya dan keluarganya. Namun Sundarji, terus mengingatkan untuk menjadi seorang yang bisa mensyukuri keadaan yang ada.

“Diterima saja yang ada, ibadah dan agama juga harus ditingkatkan, karena agama adalah tiang kehidupan,” terangnya.

Sementara salah satu tetangganya, Barkah, mengatakan jika Sundarji adalah orang yang tak banyak neko-neko. Ia juga menyebut jika Mbah Sundarji sudah sekitar lima tahun tinggal di gubuk itu.

“Orangnya baik dan biasa saja, anaknya sepertinya memang belum pernah datang,” terangnya.

 

Reporter: Anggara Jiwandhana
Editor: Ali Muntoha

  1. Triko Irianto berkata

    Bagaimana perhatian pemerintah desanya?

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.