Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

OPINI

Menakar Akar Intoleransi dari Terowongan Istiqlal

0 175
Moh Rosyid *)

PRESIDEN Jokowi tatkala meninjau perkembangan renovasi Masjid Istiqlal Jakarta Jumat 7 Februari 2020 menyatakan, menyetujui dibangunnya terowongan penghubung antara Masjid Istiqlal dengan Gereja (Katolik) Katedral yang jarak keduanya dipisahkan oleh jalan raya.

Rencananya dengan dana Rp 471 miliar dengan nama “Terowongan Silaturahmi”. Tujuannya untuk meningkatkan kualitas bangunan dan mendukung peningkatan fungsi pusat kegiatan sosial keagamaan dan kemasyarakatan.

Masjid nasional (milik negara) tersebut bila selesai renovasinya dirancang akan mampu menampung 200.000 jemaah. Wacana dalam hal apa pun, reaksi publik ragam, tidak bedanya pembuatan terowongan tersebut.

Bagi yang pro dengan dalih mewujudkan toleransi kedua umat beragama, sedangkan bagi yang kontra menganggap (1) upaya menghamburkan dana negara untuk pembangunan fisik (terowongan), (2) seakan-akan toleransi diukur dengan bentuk bangunan, (3) menimbulkan kecemburuan baru karena (seakan-akan) hanya untuk dua umat beragama saja, dan (4) mengenyampingkan esensi toleransi.

 

Antisipasi Intoleransi

Hal pokok yang harus dilakukan pemerintah agar benih intoleran tidak bersemi di tengah masyarakat adalah mengantisipasi pemicu terjadinya intoleransi di tengah masyarakat dan lembaga pendidikan.

Masih kita saksikan kini, bila hari raya nasional keagamaan nonIslam (hari libur nasional), ada madrasah/sekolah formal yang tetap masuk kelas. Dalihnya, bagi guru dan kepala madrasah, kalender akademik (kalender pembelajaran) tidak meliburkan karena kalender tersebut produk lembaga ormas (organisasi masyarakat) yang menaungi pendidikannya.

Dalih ormas, bila hari raya tersebut libur, dimaknai meyakini ajaran agama umat yang merayakan. Meyakini ini dianggap “mengganggu” akidah.

Pihak yang beranggapan ini lupa bahwa libur nasional merupakan keputusan ulil amri (pemerintah) yakni Kemenakertrans, Mendagri (Menteri Dalam Negeri), dan Menag (Menteri Agama) sehingga sebagi umat bergama (apa pun, terutama umat agama mayoritas dijadikan contoh umat minoritas) yang hidup di Indonesia harus menaati aturan ulil amri.

Ketaatan ini sebagai bukti kesadaran sebagai bangsa yang memiliki keragaman. Ekses tidak taat berimbas pada diri anak didik yang terbiasa tidak menghormati perbedaan agama, sehingga mewarisi sikap Sunan Kudus yang toleran dengan umat agama lain hanya angan-angan.

 

Esensi Toleransi

Alquran surat al-Kafirun menandaskan bahwa toleran (tidak bekerja sama) bila terkait peribadatan, tetapi dalam hal hubungan sesama manusia dan ketaatan terhadap aturan ulil amri (di luar peribadatan) tidak menjadi penghalang untuk saling menghormati.

Sebagaimana di lahan kerja, si kaya mempekerjakan si papa dengan upah layak dan menaati aturan kerja, tanpa melihat apa agama si pekerja dan yang mempekerjakan. Begitu pula, tatkala hari libur keagamaan nasional nonIslam, madrasah formal harus libur demi menjaga harmoni.

Sebagai umat mayoritas, telah dilakukan diri Nabi SAW di Kota Madinah yang menghormati umat nonIslam dalam konteks nonperibadatan.

Begitu pula karakter khas nahdliyin adalah berprinsip tawasuth (moderat) dalam berpikir dan bertindak, tidak fanatik (merasa hanya dirinya yang paling benar dan menyalahkan pihak lain secara terbuka). Idealnya, benar bagi kita dan tidak menuding pihak lain salah secara frontal.

Hal ini sebagai penanda tidak dewasa berbangsa yang dianugerahi Tuhan kemajemukan dalam hal suku, etnis, agama, dan budayanya maka sudah masuk zona intoleran. Kita berbeda tersebut karena kehendak Tuhan, bila mampu menyikapi perbedaan dengan kasih sayang (karakter khas makhluk Tuhan) maka arena selanjutnya berbuat amal salih dengan siapa pun tanpa membedakan perbedaan untuk sangu pati.

Dengan hewan dan tumbuhan pun, Islam mewajibkan umatnya untuk menghormati meski serba berbeda, apalagi dengan sesama manusia. Nuwun. (*)

 

*) Dosen IAIN Kudus

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.