Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

OPINI

Emansipasi Perempuan dari Praktik Prostitusi

0 582
Hamam Fitriana *)

FENOMENA praktik prostitusi bukanlah narasi baru. Sejarah praktik prostitusi sudah lahir berabad-abad yang lalu dalam peradaban dunia. Dalam buku The History of Prostitution (1931) karya William Wallace Sanger, prostitusi sudah ditemukan dalam kebudayaan zaman Babilonia, Mesir Kuno, China Kuno, Yunani Kuno dan Romawi.

Bahkan dalam masa-masa peradaban Islam, praktik prostitusi sudah muncul yakni adanya harem yang tidak lepas dari pelacuran.

Menyelisik di zaman kolonial, lewat karya sastra legendaris Tetralogi Pulau Buru (1980) Pramoedya Ananta Toer dapat menggambarkan bagaimana praktik prostitusi berjalan. Di mana para budak perempuan dijadikan pelacur di rumah plesiran (rumah bordil) dan adanya pergundikan seperti nasib Nyai Ontosoroh.

Pada masa revolusi saat melawan tentara kolonial, keberadaan para pelacur yang distigma sebagai penyakit masyarakat, kemudian dikirim ke daerah kolonial dan dijadikan mata-mata oleh pihak Republik. Di era reformasi sampai sekarang, fenomena praktik prostitusi merupakan fakta yang tidak dapat dipungkiri masih eksis keberadaannya.

Ihwal sejarah praktik prostitusi yang mengeksploitasi perempuan sebagai objek birahi laki-laki sejak berabad-abad yang lalu telah menjadi preseden buruk bagi peradaban manusia. Stereotipe perempuan sebagai the second sex, tersubordinasi, termarginalkan, dan inferior secara implisit telah melahirkan fenomena praktik prostitusi.

 

Egalitarianisme Gender

Prinsip kesetaraan gender sangat fundamen untuk menjadi pijakan dalam bernegara. Kesetaran gender merupakan representasi dari nilai-nilai Pancasila yang termaktub pada sila kedua. Revitalisasi kesetaraan gender dalam berbagai aspek kehidupan sangatlah urgen.

Sejarah struktur sosial bangsa yang ptriarkal mengakibatkan adanya perilaku diskriminatif terhadap perempuan. Sehingga perlu adanya reformasi gender yang mengedepankan kesetaraan. Di mana reformasi dapat dilakukan melalui pranata-pranata sosial.

Dimulai dari setiap personal untuk berlaku egaliter sejak dalam pikiran. Mengubah mindset yang menstereotipkan perempuan sebagai pengasuh anak dan urusan dapur dalam keluarga. Perlu ada kanal yang ekstensif bagi perempuan di ruang publik baik dalam pekerjaan, pendidikan, kegemaran, dan politik.

Di Negara yang berlandaskan keTuhanan, justru banyak institusi agama yang bertendensi melanggengkan budaya patriarki sehingga melabrak prinsip kesetaraan gender. Sehingga perlu ada tindakan persuasif dari tokoh-tokoh agama untuk terus menghidupkan prinsip kesetaraan gender. Selain itu perlu adanya bumbu-bumbu menghidupkan narasi kesetaraan gender dalam berbagai artikulasi di mimbar-mimbar khotbah dan ceramah secara masif.

Selain itu, masih banyak institusi liyan yang perlu menyuarakan dan menghidupkan prinsip kesetaraan gender. Sehingga entitas bias gender yang selalu mendiskriditkan perempuan sebagai kaum inferior tidak tumbuh subur. Ihwal kesetaraan gender yang fundamental dalam kehidupan bernegara, maka perlu adanya kerja kolektif dari semua unsur komponen anak bangsa.

 

Menelisik Benang Merahnya

Praktik prostitusi yang merupakan penyakit masyarakat dan perilaku immoral selalu mengaksentuasi perempuan sebagai pihak yang paling tertuduh. Sehingga menjustifikasi perempuan yang melacur sebagai pihak yang layak dikambing hitamkan. Padahal selama tidak ada demand (permintaan) maka supply (penawaran) tidak akan terjadi transaksi praktik prostitusi.

Banyak kaum perempuan yang terjun dalam praktik prostitusi sangatlah menarik untuk ditelisik. Sejarah panjang fenomena praktik prostitusi yang selalu ada di setiap era peradaban dunia, tidak lepas dari budaya patriarkal yang kuat.

Sehingga perempuan dijadikan objek yang dianggap sebagai makhluk inferior yang layak dijadikan budak dan alat pelampiasan nafsu laki-laki. Bahkan dalam peradaban Arab pra Islam, lahirnya perempuan dianggap sebagai aib dan halal untuk dibunuh.

Berabad-abad lamanya perempuan ditindas dan dibatasi ruang geraknya. Hingga sekarang praktik prostitusi masih meresidu. Wacana kesetaraan gender masih ada disparitas dengan realitas. Sehingga emansipasi perempuan belum sepenuhnya terwujud.

Epistem fenomana praktik prostitusi apabila ditelisik dari faktor himpitan ekonomi, rendahnya pendidikan, dan tidak memiliki keahlian. Sehingga perempuan terpaksa terjun dalam dunia immoral tersebut. Tentu konklusi adanya spektrum ketimpangan kesetaraan gender dalam pranata sosial telah menjadi benang merah belum terwujudnya emansipasi perempuan dari praktik prostitusi. (*)

 

*) Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga dan aktif di Rumah Kearifan (House of Wisdom)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.