Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

OPINI

Menghadapi Bencana Hidrometeorologi di Pati, Sudah Siapkah Kita?

0 5.226
Ekky Amiral Faqi *)

BENCANA hidrometeorologi merupakan bencana yang harus diwaspadai terutama saat musim hujan. Bencana hidrometeorologi adalah bencana yang terkait dengan siklus air seperti banjir, banjir bandang, tanah longsor, angin kencang, dan puting beliung.

Kabupaten Pati memiliki topografi permukaan yang cukup kompleks mulai dari daerah pesisir, dataran rendah, perkotaan hingga pegunungan menyebabkan potensi bencana hidrometeorologi yang bervariasi. Ini dibuktikan dengan terjadinya beberapa bencana dalam satu bulan belakangan ini.

Di antaranya banjir bandang yang menerjang perumahan kawasan Rendole Indah Blok J dan longsor di jalan Desa Purwokerto, Kecamatan Kayen.

Sebagai masyarakat Kabupaten Pati kita harus siap dengan kondisi yang ada. Salah satu upaya dalam mengurangi dampak dari bencana adalah dengan pengetahuan tentang bencana hidrometeorologi yang akan kita bahas dalam tulisan ini.

Sebelum membahas lebih jauh mengenai bencana hidrometeorologi di Kabupaten Pati, alangkah baiknya untuk mengetahui karakteristik iklim di Kabupaten Pati.

Berdasarkan klasifikasi iklim koppen, Kabupaten Pati masuk ke dalam kategori iklim muson tropis yang mengalami musim hujan pada periode Desember, Januari, Februari. Sehingga potensi bencana hidrometeorologi pada periode tersebut cukup tinggi.

Bencana hidrometeorologi yang pertama adalah banjir. Banjir merupakan bencana akibat curah hujan yang terlampau tinggi di luar kemampuan tanah atau badan air seperti sungai untuk menyerap atau mengalirkanya, sehingga air tergenang.

Banjir biasanya disebabkan oleh hujan sedang yang berdurasi lama ataupun hujan lebat yang berdurasi singkat. Ciri-ciri visual sebelum terjadi hujan lebat adalah tumbuhnya awan yang cepat dari kondisi langit cerah menjadi berawan pekat dalam waktu kurang dari tiga jam.

Pertumbuhan awan yang cepat menandakan akan terjadi hujan lebat. Apabila hujan tidak turun dengan lebat tetaplah waspada jika hujan berintensitas sedang dan terjadi lebih dari dua jam karena ada potensi hujan tersebut akan terus berlanjut. Banjir akibat genangan air dari hujan lebat rawan terjadi pada bulan Januari di Kabupaten Pati.

Bencana hidrometeorologi berikutnya adalah banjir bandang. Pasti muncul di benak pikiran kita apa beda antara banjir dan banjir bandang. Banjir bandang adalah banjir yang terjadi akibat curah hujan tinggi di hulu sungai yang terbendung secara alami seperti kayu, sampah, dan ranting-rating pohon maupun bendungan buatan.

Hujan lebat di hulu sungai menyebabkan bendungan tidak mampu menahan debit air, sehingga jebol membawa air dari hulu secara cepat, menyapu daerah sepanjang aliran sungai. Daerah yang rawan terkena banjir bandang adalah daerah sepanjang aliran sungai.

Untuk mengetahui tanda-tanda terjadinya banjir bandang yakni dengan mengenali kondisi cuaca di hulu sungai yang mengalir di sekitar kita. Contohnya jika sungai memiliki hulu di Pegunungan Kendeng dan ada berita hujan lebat di daerah hulu, maka masyarakat yang tinggal di hilir sungai harus waspada. Banjir bandang rawan terjadi di Kabupaten Pati pada bulan Desember hingga Januari.

Tanah Longsor merupakan bencana hidrometeorologi yang terkait dengan hujan lebat dan tingkat kejenuhan tanah. Tanah longsor sering terjadi di lereng pegunungan ketika tanah sudah tidak mampu lagi menampung air hujan.

Tanah longsor biasa terjadi tidak bersamaan dengan hujan melainkan setelah hujan selesai. Air hujan yang terlampau banyak menyebabkan tanah menjadi gembur dan jenuh, sehingga tidak mampu lagi mempertahankan kedudukanya dan bergerak menjadi longsoran.

Waspadalah penduduk di sekitar lereng bukit atau pegunungan ketika hujan lebat kemudian tanah di lereng terlihat gembur, diiringi longsoran-longsoran kecil maka bersiaplah untuk evakuasi.

 

Bencana dari Awan Cumulonimbus

Angin kencang merupakan salah satu bencana hidrometeorologi yang menimbulkan kerusakan cukup parah. Angin kencang ditimbulkan oleh adanya arus ke bawah dari awan cumulonimbus. Awan ini dikenali dengan bentuknya hitam pekat yang rendah dan berbentuk seperti bunga kol yang menjulang tinggi.

Angin kencang biasa terjadi saat awal-awal hujan turun. Angin kencang juga dapat disertai turunya hujan es (hail) akibat arus ke bawah dari awan cumulonimbus yang terlampau kuat, sehingga membawa kristal-kristal es dari awan.

Lokasi terjadinya angin kencang biasanya di kaki gunung, seperti Tambakromo, Kayen, Margorejo, Tlogowungu. Angin kencang biasa terjadi pada awal dan akhir musim hujan seperti bulan November akhir hingga pertengahan Desember dan pertengahan Februari hingga awal Maret.

Bencana hidrometeorologi terakhir yang akan dibahas adalah puting beliung. Tentu saja terdapat perbedaan antara angin kencang dan puting beliung. Berbeda dengan angin kencang, puting beliung terjadi ketika dasar awan cumulonimbus menyentuh tanah membentuk pusaran yang menerbangkan benda-benda di sekitarnya.

Perbedaan lainya adalah puting beliung terjadi menjelang hujan turun atau tidak bersamaan dengan turunya hujan. Begitu juga dampak yang ditimbulkan, untuk angin kencang kerusakanya menyebar sementara angin puting beliung memusat.

Gejala terjadinya puting beliung mirip dengan angin kencang, bedanya dasar awan cumulonimbus lebih rendah dan hampir menyentuh tanah. Lokasi terjadinya puting beliung di wilayah terbuka seperti lahan pertanian, lapangan di kaki gunung.

Untuk waktu terjadinya serupa dengan angin kencang yaitu pada awal dan akhir musim hujan seperti bulan November akhir hingga pertengahan Desember dan pertengahan Februari hingga awal Maret.

Bencana hidrometeorologi memang tidak dapat dicegah, namun akibat yang ditimbulkan dapat dikurangi. Yaitu berawal dari masyarakat sendiri dengan membersihkan saluran air menjelang musim hujan, khususnya karena banjir bandang juga dapat terjadi akibat penumpukan sampah di hulu sungai.

Kedua yakni dengan selalu memantau informasi peringatan dini dari BMKG yang untuk wilayah Jawa Tengah dapat diakses melalui http://www.cuacajateng.com/metpublic.html.

Selain dari masyarakat juga perlu adanya keseriusan dari pemerintah dengan menjaga lingkungan memberantas pembalakan liar, karena pohon-pohon di Pegunungan Kendeng dan Muria dapat menyerap air dan menahan longsoran tanah.

Kemudian adalah sosialisasi kebencanaan dari BPBD dan instansi terkait supaya masyarakat paham dan lebih waspada. Terakhir yaitu penyampaian informasi peringatan dini bencana hidrometeorologi yang cepat dan meluas dari pemerintah daerah hingga lingukan RT/RW khusunya untuk daerah-daerah rawan bencana. (*)

 

 

*) Analis Cuaca BMKG asal Parenggan, Pati

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.