Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

OPINI

Membangun Sikap Ilmiah Anak Lewat Banjir

0 71
Erwin Prastyo *)

MUSIM hujan sudah menghampiri. Hujan yang turun hampir setiap hari bahkan dengan intensitas tinggi menyebabkan banjir di berbagai wilayah. Banyak bangunan serta fasilitas umum terendam. Bangunan sekolah pun tak luput terdampak banjir. Akibatnya kegiatan belajar mengajar menjadi lumpuh.

Terjadinya banjir memang sungguh di luar batas kendali manusia. Namun bukan berarti kita hanya tinggal diam saja tanpa adanya upaya. Sederet upaya penangangan banjir dan berbagai pola mitigasi pun dilakukan.

Pendidikan di sekolah memegang peranan penting dalam mencetak generasi muda yang reflektif dan berkarakter. Pembelajaran sains menjadi amunisi yang sangat potensial dalam upaya menumbuhkan dan mengembangkan sikap ilmiah anak.

Pembelajaran sains yang dikembangkan dari sains murni memiliki hakikat. Hakikat sains dijabarkan dalam empat unsur utama yaitu sains sebagai sikap, sains sebagai proses, sains sebagai produk, dan aplikasi. Keempatnya merupakan ciri utuh yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain.

Dalam proses pembelajaran, semua unsur tersebut diharapkan bisa muncul sehingga anak mengalami proses pembelajaran secara utuh. Sikap ilmiah dan pendekatan saintifik menjadi ciri khas pembelajaran sains yang membedakannya dengan yang lain. Dengan kekhususannya ini maka pembelajaran sains sudah seharusnya tidak hanya berakhir di ruang-ruang kelas saja.

Di negara kita upaya menumbuhkan sains dengan paket lengkap empat unsur tersebut rasa-rasanya masih menjadi sesuatu yang mewah. Begitupun kebutuhan untuk mengajak anak melihat suatu fenomena menggunakan sudut pandang ilmiah. Salah satunya pada fenomena banjir yang masih saja terjadi saat ini.

Menyikapi bencana banjir dibutuhkan sikap ilmiah, sehingga risiko bencana di kemudian hari bisa diminimalkan. Pengenalan sikap ilmiah memang idealnya dimulai sejak usia sekolah. Seperti di Jepang yang sejak sangat dini sudah mengupayakan pengurangan risiko bencana dengan mengajarkan sikap sadar bencana pada anak-anak.

 

Problem Based Learning

Menurut penulis, guru di sekolah amat perlu mengembangkan keterampilan berpikir anak (berpikir kreatif, berpikir kritis, dan penyelesaian masalah). Problem Based Learning atau pembelajaran berbasis masalah bisa dipilih sebagai model pembelajaran yang tepat. Setidaknya ada lima tahapan proses pembelajaran yang bisa dikembangkan oleh guru, yaitu involvement, exploration, explaining, elaboration, dan evaluation.

Pada tahap pertama involvement, anak bisa diajak menonton video, mengamati, atau membaca artikel mengenai banjir. Selanjutnya tahap exploration, anak diajak untuk mengeksplorasi apa yang berhasil ditemukan dengan mengajukan pertanyaan apa yang mereka lihat, baca, dengar, rasakan, pikirkan, dan ingin ditanyakan.

Pada tahap explaining, bisa dengan cara memilih satu pertanyaan mereka sendiri untuk dicari tahu informasinya. Misal apa saja yang menyebabkan banjir atau langkah apa saja yang ditempuh sebagai upaya pencengahan banjir.

Elaboration, anak diajak mencari informasi lebih dalam dengan membaca dan mendalami sumber bacaan terkait banjir. Di tahap terakhir yakni evaluation, anak-anak diajak mengevaluasi pendapatnya masing-masing.

Dukungan dan peran orang tua di rumah juga tidak kalah pentingnya. Menghadapi anak yang kritis, orang tua harus siap menjadi penyedia informasi. Orang tua harus bisa menerangkan secara ilmiah penyebab banjir dengan bahasa sederhana yang mudah dipahami. Selanjutnya orang tua juga bisa mengajak anak berdialog ataupun membaca buku cerita mengenai banjir.

Untuk bencana lain, seperti tanah longsor, gempa bumi, erupsi gunung berapi, kebakaran, dan

lainnya juga bisa dilakukan langkah serupa. Lewat upaya-upaya kecil tersebut, harapannya dapat menumbuhkan dan mengembangkan keterampilan berpikir serta sikap ilmiah anak dalam menghadapi suatu fenomena.

Akhirnya, apabila anak sudah dibiasakan begitu sejak dini maka bukan hal yang mustahil kita bisa mewujudkan cita-cita besarnya. Anak dapat mengembangkan sikap reflektif dan berkarakter bahkan menjadi problem solver atas berbagai persoalan bencana di negara kita. Semoga. (*)

 

*) Fasilitator Program PINTAR Tanoto Foundation dan Mahasiswa Pascasarjana Universitas Negeri Semarang

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.