Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kanan
Banner Kuping Kanan

Sempat Ditolak Jadi Guru, Difabel di Blora Ini Raih Penghargaan Menteri karena Dirikan PAUD Gratis

0 227

MURIANEWS, Blora – Sosok Sriyono, tampaknya perlu dijadikan inspirasi bagi banyak pihak. Betapa tidak, meski menyandang disabilitas tuna daksa, namun pria berusia 35 tahun itu berhasil meraih penghargaan nasional sebagai tokoh atau sosok pegiat pendidikan anak usia dini (PAUD) dari Mendikbud pada akhir tahun 2019 lalu.

Penghargaan yang diterima Sriyono itu berkaitan dengan usahanya mendirikan sekolah PAUD di tempat tinggalnya di Desa Sendangmulyo, Kecamatan Ngawen, Blora pada tahun 2008 lalu. Tidak hanya mendirikan, Sriyono juga ikut terjun langsung mendidik anak-anak di desanya secara cuma-cuma alias gratis.

Ada kisah mengharukan di balik pendirian PAUD tersebut. Ceritanya, usai lulus D2 Sekolah Tinggi Agama Islam Muhammadiyah (STAIM) Blora pada tahun 2004 lalu, Sriyono sempat melamar menjadi guru di berbagai sekolah negeri maupun swasta.

Namun, tidak ada satu pun yang mau menerimanya menjadi tenaga pendidik.

“Selama empat tahun saya melamar ke berbagai sekolah. Baik SD, MI atau MTs. Namun, lamaran saya untuk jadi guru tidak diterima. Barangkali itu karena kondisi fisik saya yang menyandang disabilitas,” kata pria bernama lengkap Sriyono Abdul Qohar itu.

Kondisi tersebut tidak menyurutkan semangat Sriyono untuk menjadi seorang guru. Hingga akhirnya, pada tahun 2008 ia mendapatkan informasi dari bidan desa jika pemerintah pusat sedang gencar mencanangkan program sekolah PAUD.

Sriyono, penyandang difabel dari Blora yang menerima penghargaan dari Mendikbud. (MURIANEWS/Dani Agus)

Setelah mendapat informasi itu, Sriyono langsung bergerak cepat. Ia lantas mengundang dan mengumpulkan para tetangga yang memiliki anak kecil untuk menyampakan gagasannya mendirikan sekolah PAUD.

Di luar dugaannya, para tetangga ternyata sangat mendukung. Hingga akhirnya lahirlah sekolah PAUD yang diberi nama Gembira Ria.

Pada tahap awal, PAUD Gembira Ria memiliki 23 siswa. Adapun lokasinya ditempatkan di madrasah diniyah yang statusnya dipinjam untuk sekolah PAUD pada pagi hari.

“Madrasah diniyah itu kegiatannya sore hari. Jadi kalau pagi tidak digunakan dan akhirnya saya pinjam untuk PAUD,” cetus bapak dua anak itu.

Di sela-sela mengajar PAUD, Sriyono masih sempat menyelesaikan pendidikan jenjang S1 di STAIM Blora tahun 2009. Selama mengajar di PAUD Gembira Ria, Sriyono tak memikirkan masalah penghasilan.

Untuk mencukupi kebutuhannya sehari-hari, Sriyono mendapatkannya dari hasil membatik besama komunitas difabel Blora.

Selain itu, ia terkadang juga kerja serabutan, seperti memperbaiki alat elektronik. Kalau ada uang sisa, ia gunakan untuk membeli alat-alat belajar di PAUD Gembira Ria.

Para orang tua siswa yang mengetahui kondisi ekonomi Sriyono akhirnya memilih iuran sukarela untuk digunakan sebagai tambahan biaya operasional PAUD.

Selang tiga tahun, atau tepatnya tahun 2011, ada program TMMD di Desa Sendangmulyo. Di mana, salah satu program kerja TMMD ini adalah membangun gedung PAUD Gembira Ria di lingkungan Balai Desa Sendangmulyo.

Sejak saat itu, PAUD Gembira Ria ditangani oleh pemerintah desa dan Sriyono ditunjuk sebagai pengelolanya sekaligus kepala sekolahnya.

Selain mengelola, Sriyono juga masih mengajar dibantu beberapa orang guru. Saat ini ada 35 anak yang belajar di PAUD Gembira Ria, tanpa dipungut biaya.

Buah kegigihan dan pengabdiannya, Sriyono akhirnya menerima penghargaan dari Mendikbub. Penghargaan ini diberikan atas kinerja dan kepedulian yang tinggi sebagai tokoh/sosok pegiat PAUD dalam memberikan layanan pendidikan anak usia dini berkualitas.

“Penghargaan itu merupakan pembuktian bagi saya, bahwa difabel bisa mengajar walaupun di sekolah PAUD. Saya merasa bangga karena bisa memberikan kontribusi kepada dunia pendidikan, khususnya PAUD. Semoga ini bisa menjadi motivasi bagi buat teman-teman disabilitas untuk tetap berkarya,” sambungnya.

Saat ini, Sriyono masih bermimpi untuk bisa memberikan pendidikan usia dini kepada anak-anak penyandang disabilitas. Sebab, mayoritas anak disabilitas tidak mengenyam pendidikan PAUD karena orang tuanya merasa malu.

 

Reporter: Dani Agus
Editor: Ali Muntoha

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.